Rabu, 10 Agustus 2011

SEMIOKIMIA


Semiokimia adalah senyawa kimia yang membawa sinyal dari satu organisme ke organisme lain atau yang disebut senyawa yang terlibat dalam interaksi di antara organisme (Reddy dan Guerrero, 2004). Senyawa tersebut dapat berasal dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Semiokimia berfungsi sebagai mediator dalam interaksi suatu organisme dengan organisme yang lain, baik antara tumbuhan dengan serangga, antara serangga dengan serangga serta antara tumbuhan dengan hewan lainnya. Menurut Norin, 2007 semiokimia sering digunakan sebagai pengendali hayati terhadap hama tanaman. Strategi yang paling umum dengan menggunakan semiokimia adalah untuk menarik, merangkap, dan membunuh serangga hama.
Semiokimia dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu feromon dan alelokimia. Menurut Warsito, 2007 feromon merupakan senyawa kimia yang disekresi oleh suatu individu dari suatu spesies yang menyebabkan interaksi intraspesifik, yaitu respon spesifik dalam individu lain dari spesies yang sama. Alelokimia adalah interaksi antara spesies yang berbeda. Feromon dapat dibedakan menjadi : feromon seks, feromon tanda bahaya, feromon berkelompok (agregasi), dan feromon untuk meletakkan telur. Sedangkan alelokimia dapat dibedakan menjadi : alomon, kaeromon, sinomon dan agneomon. Tergantung organisme mana yang diuntungkan dalam berinteraksi. Alomon adalah senyawa yang diperoleh oleh suatu organisme yang apabila mengenai organisme spesies lain akan menyebabkan perilaku tertentu pada organisme penerima yang secara adaptif menguntungkan organisme pelepas senyawa tetapi bukan kepada organisme penerima senyawa tersebut. Kaeromon adalah senyawa yang dihasilkan atau diperoleh oleh suatu organisme yang apabila mengenai organisme spesies lain akan menyebabkan perilaku tertentu pada organisme penerima yang secara adaptif menguntungkan organisme penerima tetapi bukan kepada organisme pelepas senyawa tersebut. Sinomon adalah senyawa yang dihasilkan atau diperoleh oleh suatu organisme yang apabila mengenai organisme spesies lain akan menyebabkan perilaku tertentu pada organisme penerima yang secara adaptif menguntungkan organisme penerima maupun organisme pelepas senyawa tersebut. Sedangkan Agneumon adalah senyawa yang dilepaskan oleh suatu materi tak hidup yang menghasilkan suatu perilaku tertentu pada organisme penerima yang secara adaptif menguntungkan organisme penerima tetapi merugikan terhadap organisme spesies lain yang dapat berada disekitar atau pada materi tak hidup tersebut (Nordlund,1981). Semiokimia yang sering digunakan dalam mengatasi serangan serangga hama pada tanaman dapat bersifat sebagai atraktan (penarik) dan repelen (penolak) terhadap serangga hama tanaman tersebut (Mann, 2010).
Sastrodihardjo (1979) menyatakan bahwa zat penarik (attractance) ialah suatu zat yang menarik serangga menuju ke arah sumber zat itu. Sumber zat penarik terdapat pada serangga, burung, hewan menyusui, tumbuh-tumbuhan segar dan tumbuh-tumbuhan yang telah membusuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar