Oh ya, yg belum baca part 1, lihat di note ku sebelum nie di blogquw aja... maksih teman yang dah nyempetin baca... moga menghibur... luph u all!!!! =)
My Real Happiness - part 2
By : Monica Elizabeth
- Dion - Arlene -
Aku terbangun dengan perasaan lelah. Mataku sembab dan pakaianku masih pakaian yang kupakai dari Jakarta. Kulihat jam di kamar, sudah pukul 11 malam. Tampaknya aku sudah tidur selama 5 jam. Setelah melamun sesaat, kuputuskan untuk ke luar. Ruang tengah sudah sepi dan gelap. Perutku lapar. Pantas saja, karena dari tadi siang aku belum makan apa-apa. Tetapi aku sedang tidak berselera sekarang. Maka kakiku membawaku ke luar, ke kolam renang belakang.
“Sedang apa di sini, Len?” suara Ronald mengejutkanku, ketika aku sudah duduk di pinggir kolam.
Aku menoleh padanya dan hanya tersenyum, tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Berikutnya Ronald sudah berada di sampingku. Bersama-sama kami duduk dalam diam. Bahkan diamnya Ronald menunjukkan betapa dia memahamiku. Aku menikmati kesunyian itu, kusenderkan kepalaku di bahunya.
“'Dia' sudah pulang?” tanyaku lirih.
Ronald menghela napas, kemudian mengangguk. Kurasa dia akhirnya menerima bahwa pingsanku tadi memang karena kehadiran sahabat baiknya.
“Aku ingin bertemu dengannya lagi... Sikapku tadi benar-benar tidak sopan!” kataku sambil menatapnya.
“Kau yakin?” Ronald bertanya setelah diam sebentar, berpikir.
Aku mengangguk meyakinkannya, walau hatiku masih galau. Aku yakin dia menyadarinya, meski akhirnya dia setuju.
“Baiklah! Besok akan kuajak dia ke rumah!”
Kembali kusenderkan kepalaku di bahunya, dan mengangguk sekali lagi. Kemudian Ronald mengelus rambutku dengan sayang.
“Kak... Arlene lapar!!”
***
Keesokan harinya, Ronald benar-benar menepati janjinya. Ketika aku keluar kamar–setelah sarapan aku berdiam diri di kamar membaca novel selama 3 jam–aku melihat ada seseorang di ruang tengah. Itu Dion, sudah pasti. Selama 6 tahun aku selalu merindukan dan membayangkan sosoknya. Jadi jika kau menyuruhku mencarinya di antara sekerumunan orang banyak sekalipun, mataku pasti langsung tertuju padanya dan menemukannya. Hebat kan? Jantungku langsung berdetak tak karuan begitu melihat sosoknya. Setelah sekian lama tidak melihat wajahnya, sekarang aku sadar betapa besar pengaruh keberadaannya terhadapku, dan aku membenci rasa ketidakberdayaan ini. Kutarik napas dalam-dalam dan kusemangati diriku sendiri.
Kulangkahkan kakiku menuju tangga ke lantai bawah. Melihatku turun, Dion yang tadinya sedang bercanda dengan mama dan Ronald, berhenti tertawa. Wajahnya agak tegang, tetapi bergerak maju juga ke arahku.
“Hai, Nẻ!” sapanya ragu.
Kurenggangkan bibirku lebar, tersenyum manis ke arahnya, dan sedikit berlari menuruni tangga, kemudian berhenti tepat di depannya. Berpura-pura kesal, aku berkata sambil meletakkan tanganku di pinggang.
“Nẻ! Nẻ! Selalu saja memanggilku begitu. Namaku Arlene tau! Panggil ‘Len’ kaya yang lainnya ‘napa?” kataku cemberut. Tetapi kemudian kutambahkan sambil tersenyum manis. “Hai, Yon! Apa kabar?”
Wajah Dion menunjukkan dengan jelas keterkejutannya. Tetapi akhirnya dia juga ikut tersenyum. Dan aku harus terus berusaha keras menenangkan jantungku–yang dari awal selalu berusaha mangkhianatiku–ketika melihat senyuman mautnya itu. Hhh... poor me...
“Mana bisa kau kupanggil ‘Len’! Dari kecil kau itu ‘Nẻ’-ku! Jadi jangan pernah berharap aku akan mengikuti orang lain dan mulai memanggilmu dengan... apa??? 'Len?'” katanya sambil mengerutkan dahi. “Oh, jangan berharap!” dengusnya kemudian tersenyum.
Whats? ‘Nẻ-ku’? Oh, God! Bantu aku menghadapi pria tidak peka ini. Jeritku dalam hati. Seenaknya saja dia bilang begitu tetapi pergi meninggalkanku dulu. Dan kenapa juga dia harus sesering itu tersenyum. Sudah cukup berat menahan jantungku agar tidak meledak melihat wajahnya. Jadi tidak perlu ditambah dengan tersenyum segala. Arghhh!!!
Maka hari itu pun berlalu dengan aku mati-matian menahan diriku agar tidak hancur berkeping-keping. Tetapi aku toh berhasil lumayan baik. Aku bisa berusaha bersikap seceria dan secerewet tingkahku dulu. Kami melewati hari itu dengan mengobrol. Jangan salah, bukan mengobrol berdua maksudku, tetapi bertiga dengan Ronald. Terkadang mama ikut bergabung. Pokoknya sedapat mungkin aku menghindari hanya tinggal berdua dengan Dion. Mana sanggup aku! Bisa-bisa aku mulai menangis.
Tetapi sorenya Ronald mengkhianatiku. Setelah berenang seharian dengan Dion–tentu saja aku tidak ikut, aku hanya ngelihatin mereka dari pinggir kolam–Ronald minta ijin mau ke rumah Diana, pacarnya tersayang. Bagus! Sekarang aku harus gimana? Tidak kehabisan akal kuajak dia ke dalam dan menemani mama memasak. Jangan sampai kami harus berduaan. Tapi setelah selesai, mama berkata padaku dan Dion.
“Len, papa ngajak mama pergi ke pesta pernikahan anak rekan bisnisnya. Kamu di sini aja sama Dion, ya?” katanya ringan. “Dion, temenin Arlene selama tante pergi, ya!”
Oh, tidak! Mataku terbelalak. Untung saja piring yang kupegang tidak jatuh dan pecah.
“Beres, Tan! Titipin saja Arlene sama Dion! Kujamin dia tidak akan berbuat nakal malam ini!” Balas Dion sambil nyengir lebar. Dia pasti sama sekali tidak memperhatikan ekspresiku yang penuh horor. Kemudian Dion menarikku ke kolam renang, sementara mama bersiap-siap ke pesta.
***
Kami duduk di kursi kolam berdua. Hanya berdua! Dan aku benar-benar takut. Kenapa aku tidak mampu tenang sedikitpun. Aku baru menyadari kalau dari tadi kami saling berdiam diri. Kulirik Dion yang duduk di sampingku sekilas. Dia sedang bersandar di kursi kolam sambil memejamkan mata. Ekspresinya tenang sekali. Sejenak aku tidak mampu mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Tapi cuma sejenak!
Akhirnya kuikuti dia. Kusenderkan punggungku di bangku kolam senyaman mungkin, kupejamkan mata, dan kuhirup napas dalam-dalam, menikmati kesunyian itu. Bersama Dion di sampingku. Ajaib! Detak jantungku mulai mereda, dan aku bisa bernapas teratur.
“Sudah tenang?” suara Dion menyadarkanku kembali. Kubuka mataku dan kulihat dia sedang tersenyum menatapku.
“Oh, berarti dari tadi kau sadar ya, dengan tingkahku...” kataku muram dan malu pada diri sendiri. Kupandangi arah lain, tidak mampu melihat wajahnya yang tersenyum geli melihatku.
“Ayolah, Nẻ... Aku mengenalmu sejak kecil! Tentu saja aku tahu kapan kau bersikap ceria dan kapan kau berusaha bersikap ceria!” tambahnya masih sambil tersenyum.
“Oh, diamlah! Lama ga’ ketemu kau tambah usil, tahu! Makin cerewet lagi!” Kataku cemberut, tetapi belum juga melihat ke arahnya.
“Apa keberadaanku sebegitu mengganggumu, Nẻ?” bisiknya lirih.
Mendengar perubahan suaranya, aku langsung menoleh. Dion sedang menatapku nanar. Matanya tidak lagi berbinar-binar seperti seharian ini, melainkan benar-benar sedih.
“Kau bicara apa sih?”
Dion mendesah, masih menatapku. Jantungku mulai berdebar tak karuan lagi. Debarannya tidak terasa manis seperti orang yang sedang kasmaran, tetapi menyakitkan. Kemudian dia tersenyum sedih.
“Kau tidak bahagia bersamaku.” Itu bukan pertanyaan tetapi pernyataan. “Maaf kalau aku mengganggumu.”
Aku tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Sebentar lagi air mataku pasti akan tumpah. Kurasa dia juga menyadarinya. Seketika itu juga ekspresinya langsung berubah. Dia tersenyum cerah ke arahku.
“Oh, sudahlah tidak usah dibahas lagi. Aku sudah berjanji ke mamamu akan menjagamu, jadi aku tidak mau membuatmu pingsan seperti kemarin lagi!” katanya sambil nyengir. Kemudian dia menambahkan, “So, kudengar kau sekarang bekerja di Jakarta! Cihuy, jadi wanita karir nih ceritanya!”
Aku menggangguk dan berusaha tersenyum. Tetapi aku yakin wajahku masih terlihat sedih. Kemudian aku berkata seceria mungkin.
“Jadi wanita karir, kerja di metropolis, dan tinggal di apartemen! Keren kan?”
“Wah tinggal sendiri di apartemen? Gaya banget sih? Memang sejak kapan kau bisa mengurus diri sendiri? Dulu masak air saja bingung mau ditambah bumbu apa!” Katanya sinis, kemudian tertawa ngakak. Ya ampun, sudah lama sekali aku tidak pernah melihatnya tertawa. Dadaku langsung berdesir.
“Ukh... Bawel!” Semprotku dan kembali merajuk.
“Jadi pacarmu sekarang sedang menunggu di Jakarta?” katanya ringan masih tersenyum lebar. Gampang sekali dia bertanya seperti itu. Dia tidak sadar sudah menghujam hatiku lebih dalam. Memangnya ini hal sepele?
“Sejak putus darimu, aku belum pernah pacaran dengan siapapun!” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Tampaknya aku benar-benar kesal melihat sikap cueknya tentang hubunganku dengan cowok lain. Dan efeknya benar-benar memuaskan. Senyumnya langsung hilang dan air mukanya kembali bersedih. Tetapi tiba-tiba saja dia tersenyum, meski matanya masih sedih.
“Jadi, kau tidak bisa melupakanku selama ini? Itukah sebabnya kau tidak mencari cowok baru? Huh... apa aku sebegitu berartinya buat mu???” katanya sok cuek, cengiran mengejek muncul di bibirnya.
“Ya! Aku belum bisa melupakanmu!” Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku begitu jujur, padahal selama ini aku selalu menyangkalnya. Aku benar-benar mati rasa. Bahkan aku tidak lagi merasakan detak jantungku. Benar-benar dingin...
“Nẻ...” Dion terkesiap.
“Kau merasa bangga kan? Sudah berhasil membuatku begini. Mencoba pacaran lagi saja aku ga’ bisa. Kau selalu menghantuiku! Selamat ya! Perlu ku beri standing applause?” Bibirku terus bicara, mataku menatap tajam wajah Dion yang semakin lama semakin galau. Cukup Arlene! Jerit suara hatiku. Tetapi segala hal dari masa lalu datang menghantamku tanpa ampun. Kehangatan dalam diriku sudah hilang. Aku ingin Dion menyesal telah membuatku begini.
“Hentikan cara bicaramu yang dingin itu! Kau tidak seperti Arlenẻ yang kukenal!” Ingatnya.
“’Arlenẻ yang kau kenal?’ Bagaimana Arlenẻ yang kau kenal, Dion? Aku memang bukan lagi Arlenẻ yang kau kenal! Aku bukan lagi ‘Nẻ-mu’! Kau yang sudah menghancurkanku berkeping-keping!” kataku datar sambil mengangkat bahu, cuek, dingin.
“Arlene, sudahlah! Jangan begini, kumohon... Kalau kau ingin marah, marahlah padaku! Tetapi jangan bersikap dingin begini! Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri...” Katanya memohon.
“Kenapa kau harus pulang ke Indonesia, Yon?” kataku padanya. Kali ini suaraku lirih, berbisik. Rasa sakit kembali menghantam hatiku. Luka lama itu kembali terbuka. Sakitnya bertubi dan tidak mau mereda. Aku menunduk memegang dadaku, berusaha tetap tenang.
“Kau tidak senang ya aku pulang?” balasnya sedih.
Aku tidak menjawab pertanyaannya, atau membalas pandangannya. Luka hatiku sudah menganga lebar sekarang. Rasanya benar-benar sakit. Akhirnya aku tidak mampu lagi menahan air mataku, beberapa tetes air mata jatuh kepangkuanku.
“Kau menangis?” Ujarnya terperangah. Tangan Dion terulur seolah ingin meraihku, tapi kemudian dia menjatuhkannya kembali, kemudian berbisik, “Nẻ, kumohon jangan sedih...”
Aku memberanikan diri menatapnya. Dion terlihat terpukul sekali. Aku jadi tidak tega melihatnya. Dasar! Bisa-bisanya dia membuatku merasa bersalah di saat sepeti ini. “Maaf...”, ujarku lirih.
“Tidak-tidak! Kau tidak boleh minta maaf! Akulah yang harus mengatakannya. Dari semua hal yang bisa kukatakan padamu hari ini, seharusnya kata maaf adalah hal pertama dan terpenting yang kuucapakan.” Katanya memarahi diri sendiri. “Tetapi, aku ga’ tau bagaimana cara memulainya, Nẻ! Rasanya menerima maafmu pun–seandainya kau nanti memaafkanku–aku juga tak pantas, melihat begitu besar luka yang sudah ku toreh.” Dion berkata sedih sambil menatapku lekat-lekat.
Aku mencoba tersenyum, air mata masih mengaliri pipiku. “Jadi kau pulang jauh-jauh ke Indonesia cuma pengen minta maaf?”
Melihat senyumku, dia juga tersenyum sidikit, meski matanya masih sedih oleh rasa bersalah.
“Tidak juga... Sebenarnya aku pulang karena memang harus pulang! Di sini kan rumahku!”
Aku bingung dengan perkataannya. Mencoba memahami maksud dibaliknya. Tetapi aku masih bingung, maka aku bertanya, “Di sini rumahmu? Maksudnya di mana?”
“Haha... Kau tidak berpikir yang kumaksud ‘rumah’ adalah rumahmu kan? Bukan itu... Aku bilang di sini rumahku, Indonesia rumahku, Malang rumahku! Jadi sudah sewajarnya aku pulang ke rumah, kan?” Balasnya. Matanya terlihat cerah melihat kebingunganku, tetapi sangat lembut, membuatku sesak napas.
“Ta... Tapi, dulu kau bilang tidak akan pulang ke sini lagi! Kau bilang akan selamanya tinggal di Amerika!!”
“Andai aku bisa... Tapi aku tak sanggup!” Ujarnya lembut.
“Bisa tidak kau langsung to the point aja? Kenapa kau pulang ke Indonesia??” Kataku sedikit membentak. Kutekuk mukaku, tangan kulipat di dada, tidak sabar menanti jawabannya.
Dion kembali tertawa, “Ah... Aku sudah lupa kalau kau manis sekali saat marah!”
Aku melotot menatapnya. Apa-apaan sih cowok ini! Pake nge-goda segala lagi! Sejenak aku berpikir, bagaimana kalau seandainya nanti Dion akan pergi lagi ke Amerika? Apa aku sanggup bertahan untuk kedua kalinya? Aku menggelengkan kepala, berusaha membuang jauh-jauh perasaan itu. Itu bisa dipikirkan nanti. Sekarang aku harus membereskan masalahku dengan pria di hadapanku ini dahulu.
Melihatku marah, akhirnya Dion berhenti tertawa. “Okay..okay.. Maaf! Aku tidak akan bercanda lagi! Jadi, sampai mana tadi... Oh ya! Kenapa aku pulang ke Indonesia?” Dion menarik napas sebentar, kemudian perlahan–sangat perlahan, sedikit ragu mungkin–dia meraih tanganku dan menggenggamnya. Irama jantungku langsung bergemuruh. “Aku pulang karena kau. Aku merindukanmu, teramat sangat rindu! Itu seharusnya sudah jelas sewaktu kau melihatku, masa kau tidak menyadarinya kemarin? Kau malah langsung pingsan seperti melihat hantu!” Dion berdecak sambil mengeleng-gelangkan kepalanya, kemudian menarik napas. “Aku tidak sanggup hidup jauh darimu, Nẻ!” Tambahnya lembut.
Syok, aku tidak tahu harus berkata apa. Jelas aku bahagia. Tidak ada kebahagiaan lain yang kuimpikan selain ini sejak dulu. Tetapi kemudian aku marah. Apa dia bermaksud mengatakan kalau dia masih menyayangiku, kemudian kembali pergi meninggalkanku? Bagaimanapun aku masih ingat, kalau dia bilang akan tinggal di Amerika selamanya. Kutarik tanganku dengan kasar dari genggamannya–dengan berat hati tentu saja. Dion kaget, kemudian ekspresi sedih memenuhi wajahnya.
“Aku sudah terlambat, kan? Kau sudah tidak bisa memaafkanku? Aku tahu, aku tidak pantas mendapatkannya! Aku sudah tahu itu...” Bisiknya lebih kepada diri sendiri.
“Aku bukannya tidak bisa memaafkanmu! Kau sudah mendapatkannya sejak dulu. Aku hanya marah! Mengapa kau jahat sekali, mengatakan hal tadi kemudian bermaksud pergi meninggalkanku lagi. Bagaimana, menurutmu aku bisa bertahan setelah ini?” Air mata kembali menetes di pipiku.
Dion menatapku bingung, kemudian matanya semakin melebar. “Kau berpikir aku akan meninggalkanmu lagi? Apa kau tidak ingat apa yang tadi kukatakan?” Digelengkannya kepalanya frustasi. Kembali diraihnya tanganku–kali ini tanpa keraguan–kemudian digenggamnya erat-erat. “Tidakkah kau mengerti? Aku tak sanggup hidup tanpa dirimu Arlene. Sejak kita berpisah, kau selalu hadir di pikiranku, di mimpiku, bahkan di setiap hal yang kulakukan. Mana mungkin aku bisa pergi lagi? Apalagi sekarang, ketika aku kembali melihat wajahmu, senyummu, air matamu...” Dihapusnya air mata yang mengalir di pipiku, sentuhannya mebuat dadaku bergemuruh, pasti mukaku merah sekali sekarang. “Mana bisa aku meninggalkanmu lagi? Mana mungkin aku sanggup? Aku begitu mencintaimu.”
Oh, God! Dia bilang dia mencintaiku! Apa aku bermimpi? Tetapi kenapa mimpi ini terasa begitu nyata? Aku bahkan bisa merasakan kehangatan tangannya dan kelembutan matanya. Jadi, semua ini nyata? Maka tangisku pun pecah. Kubiarkan suaraku pecah oleh tangis. Kutundukkan kepalaku, agar dia tidak melihat wajahku, tanganku masih dalam genggamannya.
Dion mengulurkan tangannya, diangkatnya daguku, kemudian menatapku penasaran. “Ada apa, Nẻ? Kenapa kau menangis? Kau tidak bahagia? Kau sudah tidak mencintaiku lagi?”
Kutatap matanya yang sedih. Sambil terisak, aku berkata “Kalau begitu, mengapa dulu kau memutuskanku begitu saja? Kenapa kau bilang kau tidak akan kembali lagi? Kenapa kau bahkan tidak membiarkanku menyatakan pendapat?” kuhentakkan tanganku yang berada dalam genggamannya, dan kupukulkan ke pahanya. “Kenapa kau tidak memintaku, untuk menunggumu?” Ujarku terbata-bata oleh tangis.
Dion menggenggam kembali tanganku dengan lembut, suaranya pelan sarat penyesalan. “Apa menurutmu yang harus kulakukan, Nẻ? Memintamu untuk menungguku dan membatasi kebebasanmu? Itu namanya egois... Aku tidak berhak mendapatkannya. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku sadar sikapku kejam sekali terhadapmu waktu itu. Habis, mau bagaimana lagi? Itu satu-satunya cara agar aku sanggup berpisah darimu.” Dia menarik napas sebentar kemudian kembali bicara, “Aku belajar dengan keras di sana, berfikir dengan begitu aku bisa mengalihkan bayanganmu dari pikiranku. Tetapi aku tidak berhasil, dan mamaku menyadarinya. Setelah itu, kami bicarakan hal ini dengan papa–kami bertengkar hebat malam itu. Tetapi akhirnya beliau setuju membiarkanku pulang ke Indonesia, asal kuliahku berhasil dan memperoleh pekerjaan di sini dengan tanganku sendiri. Dan inilah akhirnya, aku di sini berhasil meraih impianku kembali berada di dekatmu.” Katanya sambil tersenyum. Ditatapnya mataku, “Maafkan aku! Maaf sudah membuatmu sengsara selama 6 tahun ini.” Dion bangkit dari duduknya, ditariknya tanganku mengajakku berdiri. Dibelainya pipiku yang basah dengan lembut sambil menatap mataku mesra. “Hei...” bisiknya lembut, ”Masih layakkah aku memperoleh cintamu?”
Dan aku pun tak sanggup lagi menahan diriku. Kutarik tanganku dari genggamannya kemudian kulingkarkan tanganku ke lehernya dan kembali menangis di dadanya. Dion membalas pelukanku sepenuh hati. Dipeluknya aku erat-erat seakan tidak ingin melepaskanku. Selama 5 menit, moment itu terus berlanjut, hingga akhirnya dia berbisik lembut di telingaku, “Apa ini artinya aku boleh mencintaimu?”
Aku mengangguk di dadanya, dan Dion memelukku semakin erat.
Dia kembali bertanya, “Would you like to be my girl... again?” dia tertawa kecil ketika mengatakannya.
Aku melepaskan pelukanku, kemudian menatapnya. Kupasang wajah cemberut. Sebaliknya wajah Dion penuh dengan kebahagiaan, tangannya masih memeluk pinggangku lembut. “Kau harus berjanji untuk tidak melakukan hal ini lagi padaku! Kau tidak boleh seenaknya pergi dan pulang tanpa mengajakku!” Dia tersenyum mendengar nada suaraku yang kesal. “Kalau kau melakukannya lagi, mungkin aku bisa mati. Dan aku pasti akan menghantuimu seumur hidup!”
Kegembiraan langsung hilang dari wajahnya, kali ini air mukanya penuh horor. “Kau tidak pernah berpikir untuk bunuh diri kan, sebelum ini? Iya kan, Nẻ?” Digenggamnya wajahku, menatap mataku, mencari kejujuran di sana.
“Tentu saja tidak! Memangnya aku sudah gila? Tetapi kalau kau melakukannya lagi, aku mungkin akan benar-benar gila!” Kutekan kata gila ketika bicara.
“Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!” Bisiknya serius, “Aku berjanji!” Kembali dibawanya aku dalam pelukannya. Aku membalasnya dengan senang hati. Tidak ada tempat lain yang lebih nyaman daripada pelukan Dion. Tetapi kemudian aku menghela napas. Dia merasakannya, maka di lepaskannya pelukannya dan ditatapnya mataku. “Ada yang salah?” tanyanya ketika melihat wajahku menjadi sedih.
Kugelengkan kepalaku, menyesali. “Kita tetap akan berjauhan. Kau di Malang, sementara aku punya pekerjaan di Jakarta.” Aku kembali ingin menangis memikirkannya.
Dion tertawa, membuatku bingung. Kemudian dengan mata jahil ditatapnya aku. “Kau pikir aku akan sembarangan mencari pekerjaan? Aku menyelidikimu dulu, sayang! Tentu saja Ronald yang membantuku mencari informasi tentangmu. Aku sudah dapat promosi untuk bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Dan sebagai tambahan, tempatnya cuma berjarak 10 menit berjalan kaki ke apartemenmu.”
Aku terkesiap hingga berteriak, “Sungguh?”
Dion hanya mengangguk sambil tersenyum. “Tidak ada lagi yang bisa memisahkan mu dariku!” Katanya tegas sambil menatapku penuh sayang.
Aku tertawa gembira. Kupeluk dia sambil meloncat-loncat. Dion malah memelukku sambil sedikit mengangkatku. Dia ikut tertawa bersamaku. Jantungku berdebar kencang sekali. Tetapi kali ini tidak ada kesakitan. Yang ada hanya perasaan bahagia. Rasanya sangat manis. Jika Eva berkata, kalau aku adalah gadis yang paling bahagia sekarang, maka aku akan menjawab “YA!” dengan tegas. Tidak ada kebahagian lain yang kuinginkan selain ini.
Dion menatapku sekarang. Aku baru sadar wajah kami sudah sangat dekat, dan semakin mendekat. Aku mendengar dia bertanya pelan, “Boleh?” Aku tidak menjawabnya, tetapi kupejamkan mataku dan menunggu. Aku tegang sekali, dapat kurasakan darah mengalir deras ke wajahku. Pasti tinggal sedikit lagi, ketika...
“Grubyak!”
“Auw!”
“Ups, ketahuan, deh!”
Kubuka mataku lebar-lebar. Kulihat Dion melakukan hal yang sama. Bibirnya sudah tinggal 2 cm lagi dari bibirku. Siapa sih yang mengganggu di saat seperti ini?
“Mama? Papa? Kak Ronald? Ngapain sih kalian?” Aku benar-benar malu. Refleks kujauhkan tubuhku dari Dion. Tetapi tangan Dion dengan mesra tetap merangkul pinggangku. Dion hanya tertawa, disusul dengan yang lain. Sementara aku malah menunduk berusaha menyembunyikan wajahku yang sudah merah membara. Aku yakin Dion bisa merasakan panas yang menggelora dari tubuhku. AKU MALU Banget!! Hehe...

THE END
- By : Monca_Swan -

Tidak ada komentar:
Posting Komentar