"Hmmm... lgi pengen berbagi cerpen... hehe... Tulisan favorit ku ini... pi kepanjangan makanya kubuat bersambung yupzz... hope u like it... Coment in yup guyss... Plizz enjoy... ^___^"
MY REAL HAPPINESS (Part 1)
by : Monica Elizabeth
Aku menatap dari balik jendela sambil melamun. Sekelabatan pepohonan dan perumahan silih berganti dengan cepat. Kadang yang terlihat hanya hamparan tanah kosong, deretan sawah, atau sungai kecil dengan air yg keruh. Semakin lama kawasannya digantikan dengan bangunan yang lebih besar dengan banyak pertokoan di sekitarnya. Langit mengeluarkan warnanya yang kemerahan di ufuk barat. Rasa letih yg sama sekali tidak ada hubungannya menyerangku. Sekali lagi suara iri Eva terdengar dalam benakku.
“Lo sempurna banget ya, Len! Sudah cantik, baik, kaya, pintar lagi! Baru tahun lalu lo dapat pekerjaan setelah lulus dengan nilai kumlaut, sekarang udah di tawarin naik pangkat! Nah, gue? Tetep mandhek aja di sono! Bisa bejamur gue lama-lama! Makanya wajib lo syukuri ntu, jadi wanita yang paling bahagia sedunia.”
“Hhh...,” Aku menghela napas. Kualihkan pandangan dari kaca, kali ini melamun menatap senderan kursi di depan. Benarkah? Suara hatiku bertanya. Benarkah aku orang paling bahagia di dunia?
Sekelabatan bayangan masa lalu muncul tanpa permisi. Peristiwa yang sudah lama terkubur jauh di relung hatiku. Aku menggelengkan kepala berusaha menghilangkannya. Tidak!! Hati kecilku berontak menjawab pertanyaanku sendiri.
“Hhh...,” kembali kudesahkan napasku, ragu mengakuinya. Yah... kataku kembali pada diri sendiri, menegaskan, Aku masih kosong!!
“Sudah sampai di rumah, Non!” suara lembut Pak Nor membuyarkan lamunanku. Tampaknya karena kebanyakan bengong aku ga’ sadar sudah sampai di rumah.
“Non Arlene cape banget, ya? Dari Airport Surabaya sampai tiba di Malang, Non diam aja. Padahal dulu Non cerewet sekali kalau di dalam mobil, sukanya ngegodain Pak Nor!” serunya polos sambil cemberut.
Aku mengangguk menyetujui sambil tertawa mendengar ocehannya. Dasar supirku yang satu ini, dari dulu ga’ pernah berubah, usil tapi polosnya ga’ kira-kira. Perasaan nyaman karena ucapannya mengingatkanku kalau aku memang sudah di rumah. Dia tersenyum dan segera turun dari mobil untuk membukakan pintuku, kemudian menurunkan koperku dari bagasi.
Aku menatap rumah di depanku. Rumah besar beratap cokelat mengkilat. Terdiri atas 2 lantai yang membuatnya terlihat megah dan elegan. Cat dindingnya berwarna putih cemerlang seperti baru.
Sudah 5 tahun... Renungku dalam hati. Tapi semuanya masih sama dengan yang kuingat. Aku tersenyum cerah, menghirup napas dalam-dalam, berharap itu bisa mengisi kerinduanku akannya. Aku memang benar-benar sudah pulang!
“Kangen rumah ya, Non!” suara wanita tua yang sudah kukenal menyapaku.
“Mbok Inah!” sapaku ceria. Tanpa berpikir langsung ku peluk beliau. “Kangen..”, tambahku manja ketika melepas pelukanku.
“Haha…” dia tertawa lembut, sambil mengusap ujung matanya. “Kami semua yang paling kangen sama Non Arlene! Sejak Non Arlene pergi, rumah jadi sepi! Dasar si non ini, ndak pernah mau pulang selama kuliah. Bahkan liburan juga! Udah kerja pun tetep ndak pernah sempet pulang ke Malang!” katanya penuh sayang.
“Sudah-sudah, Bu! Biarkan Non Arlene istirahat dulu, lagipula pasti Nyonya dan Tuan sudah menunggu di dalam!” tegur Pak Nor yang sudah ada di sebelah kami dengan menjinjing koperku.
Aku masih tersenyum sewaktu melangkah ke pintu masuk. Ketika itu aku baru menyadari ada mobil asing yang diparkir di garasi rumahku. Tetapi rasa hangat dan bahagia karena akan bertemu papa, mama, dan kakakku, membuat rasa penasaran itu pergi begitu saja. Dengan ceria kubuka pintu depan kemudian bergegas menuju ruang keluarga. Ada beberapa orang di dalam situ, tapi suara keras mama yang memfokuskanku.
“Arlene!! Mama kangen banget!” katanya sambil memelukku hangat, aku membalasnya. “Kamu koq kurusan? Lihat ini wajahmu putih pucat, sama sekali ga’ sehat! Ga’ pernah olahraga, ya? Makan ga’ teratur?” Mama langsung memborbandirku dengan berjuta pertanyaan cemas. Aku hanya tersenyum.
“Sudah dong, Ma! Gantian, papa juga kangen sama putri kecil kita ini!” kata papa melepas pelukan mama kemudian berganti memelukku sayang.
“Aku sudah bukan putri kecil papa lagi!” kataku pura-pura cemberut, padahal mataku masih berbinar-binar bahagia. “Mana kak Ronnie?” tanyaku pada mereka berdua.
“I’m here, my little sister!” teriak kakakku sambil menyongsong memelukku kuat-kuat, sedikit mengangkatku. “Wusyet, da! Lama di Jakarta bukannya tambah tinggi malah tambah pendek adikku ini. Dan kapan kau mau berhenti memanggilku Ronnie? Namaku Ronald tau! Bukan Ronnie, hiiii… mengerikan!”
“Haha…” aku tertawa bahagia sambil menatap mereka semua, dan kemudian aku sadar masih ada satu orang lagi di ruangan itu.
“Halo, Nẻ!” sapa seorang pria yang baru saja beralih ke depanku, menatapku.
Sejenak aku terdiam oleh syok. Segala hal di masa lalu berebut masuk ke benakku, menghantamku. Cara panggilan itu, suara itu, senyum itu, dan wajah itu. Aku belum siap dengan reaksiku sendiri. Kepalaku pusing oleh syok. Aku merasa seluruh ruangan berputar. Sekonyong-konyong aku terjatuh karena lututku–yang tiba-tiba mati rasa–tidak mampu menahan berat tubuhku.
“Arlene!!” mama berteriak memanggil namaku, tetapi tangan hangat yang sangat kukenal–bahkan kuimpikan–memegangku, membantuku berdiri. Tubuhku langsung gemetar seperti demam. Aku mau melepaskannya, tetapi menahan berat tubuhku pun aku tak sanggup. Aku ingin menangis karena tidak mampu melepaskan diri dari tangan hangat itu. Tapi entah mengerti atau kebetulan, dia memberiku ke tangan Ronald. Rasa gemetar itu langsung berkurang digantikan kehampaan yang tiba-tiba saja menyergapi hatiku. Aku masih belum sanggup berdiri, jadi Ronald mengangkatku ke kamar tamu, karena kamarku ada di lantai 2.
“Wajahmu pucat sekali Arlene! Apa kau sebegitu kelelahannya? Kenapa tidak bilang dari awal?” seru mama ketika aku sudah dibaringkan di tempat tidur. Aku tidak menjawab. Air mata menetes ke telingaku.
“Sebaiknya kau istirahat dulu, sayang!” kata papa menentramkan. Aku mengangguk mengiyakan.
“Kalau perlu sesuatu, kau boleh memanggilku!” Ronald berkata sambil menatapku penuh arti, seperti tahu apa penyebab aku tadi hampir pingsan. Kemudian mengelus dahiku sebentar dan beranjak keluar.
Dan dia! Dia hanya berdiri di ambang pintu. Terus menatapku penuh kesedihan, penyesalan, rasa khawatir, dan–kalau aku tak salah menilai–penuh kerinduan. Tetapi dia tidak berani mendekat, menyadari penolakanku. Diapun ikut beranjak keluar dengan enggan ketika Ronald menatapnya penuh peringatan, meninggalkan aku sendirian di kamar.
Sendirian membuatku teringat semua kenangan itu lagi. Kenangan yang sebenarnya sudah kukubur di hatiku yang terdalam dengan sempurna selama 6 tahun ini.
***
Namanya Dion. Anak teman baik Papa yang sekaligus relasi kerjanya. Teman baikku dan Ronald sejak usia SD. Dulu kami selalu bermain bersama. Aku yang paling muda sekaligus cewek sendiri, paling sering digoda oleh mereka berdua. Tetapi dia juga selalu melindungi dan membantuku saat aku butuh pertolongan.
Aku sangat menyayanginya. Dion sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Hingga aku semakin sadar seiring berjalannya waktu, dia mulai memperhatikanku bukan seperti adiknya lagi. Tapi tingkahnya masih sama jahilnya dengan biasanya. Jadi aku masih belum tahu perasaanku sendiri terhadapnya. Aku baru sadar kalau aku menyayanginya lebih dari seorang kakak sejak menginjak akhir kelas 3 SMP. Dia sudah kelas 1 SMA saat itu, sama seperti Ronald, dan dia menyadari perasaanku. Maka kamipun jadian.
Aku bahagia. Kalau pada saat itu Eva bilang aku wanita paling bahagia di dunia aku akan bilang ‘ya’ dengan tegas. Dia sangat menyangiku seperti aku padanya. Mengenalnya dari kecil membuat kami sama2 tahu sifat asli masing-masing. Jadi kami sangat cocok. Pasangan paling serasi yang selalu membuat iri, begitulah yang sering kudengar dari Ronald dan teman-temanku. Hingga suatu saat, pas di tahun ke-2 hari jadian kami hal itu terjadi.
Aku pergi ke rumahnya, menantinya pulang dari sekolah. Sudah beberapa minggu itu hubungan kami agak renggang. Aku tidak tahu penyebabnya. Tapi di hari spesial kami berdua ini, mana boleh aku sok jual mahal. Meski harga diriku tinggi aku harus bisa mengalah, daripada masalah berlarut-larut tidak selesai. Malam itu, Dion pulang dengan muka muram, dia kaget melihatku duduk di ruang tamunya.
“Oh, Nẻ! Kau...” Dion terkejut. “Ngapain kau di sini??” katanya tiba-tiba galak.
“Kenapa marah? Apa salah kalau aku datang?” balasku tidak dapat menyembunyikan keterkejutanku akan reaksinya.
“Kau tidak menjawab pertanyaanku!!” balasnya sengit dan dingin. Aku kaget, tapi berusaha menguasai diri. Sabar Arlene, jangan sampai hari istimewa ini hancur. Baru kemudian dia menyadari ada kue tart mini di meja. Dan Dion pun mengerti, tapi masih saja bertanya padaku.
“Buat apa bawa-bawa kue segala?” katanya masih dingin.
“Ehm, masa tidak ingat, Yon?” kataku tersenyum berusaha terlihat ceria. “Hari ini genap 2 tahun kau menembakku. Ingat?”
“Ada-ada saja!” hanya itu yang dia katakan. Maka kemarahanku meledak.
“Kau ini ada apa sih? Selama sebulan ini kau terus-terusan bersikap dingin padaku! Kalau aku sudah marah, kau hanya bilang maaf tanpa menjelaskan dan bilang ini semua salahmu, bukan salahku. Tapi besoknya sikapmu kembali dingin dan ketus. Kalau ada masalah, kumohon bilang padaku. Kita pasti bisa menyelesaikannya bersama.” Kataku sambil mengguncang-guncang lengannya dan menatap matanya lekat-lekat. Sesaat matanya tampak sedih, tapi kemudian mata itu kembali dingin.
“Maaf!” cuma itu yang dia ucapkan. Aku pun langsung terduduk dan mulai menangis. Hari ini Dion kejam sekali. Biasanya setelah aku marah seperti barusan, dia akan memelukku, menentramkanku, dan bilang maaf dengan sepenuh hati. Tapi kali ini dia begitu dingin.
“Nẻ, kita putus saja!”
Jleger!!! Aku seperti tersambar petir mendengarnya. Kata-kata itu meluncur begitu cepat dari bibirnya. Tanpa pertimbangan, tanpa peringatan. Seakan hal itu hanyalah masalah sepele. Aku hanya diam menatapnya, tidak mampu berkata apapun, akibat syok. Air mata mengalir deras di pipiku. Tetapi dia memalingkan wajahnya, tidak ingin menatapku.
“Ada apa ini, Dion? Kenapa kau membuat Arlene menangis? Bukannya hari ini hari spesial kalian berdua?” suara Lia, mama Dion, tiba-tiba memecahkan kebisuan kami berdua.
“Mama tidak usah ikut campur! Bukankah ini yang mama inginkan?” ujar Dion.
Aku menatap bingung ke arah mama Dion. Aku sangat menghormati beliau. Selama ini tidak ada yang mengganggunya tentang hubunganku dengan putranya. Lia terkejut, kemudian mengerti.
“Yah… tapi kau tidak bisa menyakitinya tanpa menjelaskan apa pun, Dion!”
“Argh, sudahlah!” Dion hendak meninggalkan ruangan, meninggalkanku begitu saja tanpa menjelaskan apa-apa. Aku tidak terima! Kuhalangi jalannya.
“Kau tidak bisa pergi, setelah memutuskanku–tanpa menjelaskan apapun!” Jeritku histeris.
“AKU AKAN PERGI!! Pergi dari Indonesia dan tidak akan kembali lagi! Puas??” Balasnya berteriak. Aku tertegun.
“Pergi? Kemana?”
“Ke Amerika! Melanjutkan kuliah di sana dan hidup di sana! Sesuai keinginan papaku tersayang! Sekarang kau mengerti? Ini yang terbaik!” katanya putus asa.
“Tapi… tapi kau tidak perlu minta putus, Yon! Cukup bilang ‘Tunggu Aku’!” kataku memohon. Sekarang aku mengerti kenapa sikapnya berubah selama sebulan ini. Dan air mata semakin deras mengalir di pipiku. Aku takut!
“Tidak!” katanya tegas. “Tidak, Nẻ! Kumohon mengertilah! Lebih baik kita putus, sehingga kau bebas melakukan apa pun! Aku tidak akan kembali lagi ke sini, mengertilah! Okay!” dia menyentuh pipiku dan menghapus air mataku. Matanya sedih tapi dia tidak bilang apa2 lagi.
Dion menelpon Ronald setelah itu dan memintanya menjemputku. Sementara itu dia masuk ke kamarnya meninggalkanku berdua dengan mamanya di ruang tamu.
Itu pertemuan terakhirku dengan Dion. Selama 3 hari dia terus menghindariku. Dan setelah itu aku hanya tahu kalau pada hari keempat dia sudah pergi dengan hanya meninggalkan surat padaku. Dia bilang aku akan selalu menjadi cinta pertamanya. Dan dia memintaku untuk melupakannya. Semudah itu! Segampang itu dia memintaku melupakan segalanya. Dia bahkan tidak memberiku kesempatan menyampaikan pendapatku.
Sejak itu aku membencinya. Selama setahun aku mengutukinya. Tapi sementara itu aku juga sadar aku tidak bisa melupakannya. Dia terus mengisi hatiku. Seiring berjalannya waktu rasa benci itu sudah lenyap digantikan rasa rindu. Selama 5 tahun aku terus memimpikannya. Berusaha melupakannya, tetapi tidak pernah mampu. Aku sudah lama menguburnya dalam benakku, meskipun dia selalu muncul di alam bawah sadarku. Aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi sekarang.
Oh... dia semakin tampan! Dia sudah menjadi pria dewasa sekarang.
Bodohnya kau Arlene!! Kenapa juga pake’ pingsan segala! Kaya ga’ ada waktu lain saja! Bagaimana kalau dia cuma sebentar di Indonesia? Bersikaplah wajar! Jadilah sahabatnya! Aku mendengar suara hatiku. Yah... aku akan bicara padanya, tapi sekarang aku harus tidur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar