Rabu, 10 Agustus 2011

BAHASA KUNO - ERAGON SERIES

The Ancient Language - Bahasa Kuno dalam Eragon saga..... Smua ada disini... smoga menyenangkan para penggemar...


* adurna - water

* äenora - broad

* Agaetí Blödhren - Blood-oath Celebration

* Ai varden abr du Shur'tugals gata vanta.- A warden of the Riders lacks passage.

* Aiedail - the morning star

* alfr ach thornessa - he does this

* alfrinn ero a� koma ramrsja - she was a strong-looking woman

* arget - silver

* Argetlam - Silver Hand

* Atra esterní ono thelduin/Mor'ranr lífa unin hjarta onr/Un du evarínya ono varda. - May good fortune rule over you/Peace live in your heart/And the stars watch over you.

* Atra gülai un ilian taught ono un atra ono waise skolir fra rauthr. - Let luck and happiness follow you and may you be a shield from misfortune.

* Atra gülai un ilian taught ono un atra ono waíse sköliro frá rauthr. - Let luck and happiness follow you and may you be shielded from misfortune.

* Atranosu waíse vardo fra eld hórnya. - Let us be warded from listeners.

* Bjartskular - Brightscales

* Blöthr - halt; stop.

* Brakka du vanyalí sem huildar Saphira un eka! - Reduce the magic that holds Saphira and me!

* breoal - family; house

* brisingr - fire

* dagshelgr - Hallowed Day

* Deloi moi! - Earth, change!

* delois - a green-leafed plant with purple flowers

* Domia abr Wydra - Dominance of Fate (book)

* dras - city

* draumr k�pa - dream stare

* Du Fells Nángoröth - The Blasted Mountains

* Du Fyrn Skulblaka - The Dragon War

* Du grind huildr! - Hold the gate!

* "Du Silbena Datia" - "The Sighing Mists" (a poem song)

* Du S�ndavar Freohr - Death of the Shadows

* Du Völlar Eldrvarya - The Burning Plains

* Du Vrangr Gata - The Wandering Path

* Du Weldenvarden - The Guarding Forest

* dvergar - dwarves

* ebrithil - master

* Edoc'sil - Unconquerable

* edur - a tor or prominence

* eitha - go; leave

* Eka fricai un Shur'tugal! - I am a Rider and a friend!

* ethgri - invoke

* fairth - a picture taken by magical means

* Fethrblaka, eka weohnata neiat haina ono. Blaka eom let lam. - Bird, I will not harm you. Flap to my hand.

* finiarel - an honorific for a young man of great promise

* Fricai Anglát - death friend

* Gala O Wyrda brunhvitr/Abr Berundal vandr-fodhr/Burthro lausblädar eja undir/Eom kona dauthleikr... - Sing O white-browed Fate/Of ill-marked Berundal/Born under oaken leaves/To mortal woman...

* gánga aptr - to go backward

* gánga fram - to go forward

* garjzla - light

* Gath sem oro un lam iet - Unite that arrow with my hand.

* gath un reisa du rakr! - Unite and raise the mist!

* gedwey ignasia - shining palm

* Geuloth du knifr! - Dull the Knife!

* haldthin - thornapple

* Helgrind - The Gates of Death

* hlaupa - run

* hljödhr - silent

* hvitr - white

* iet - my (informal)

* jierda - break; hit

* Jierda theirra kalfis! - Break their calves!

* kodthr - catch

* Kvetha Fricai - Greetings, friend.

* lethrblaka - a bat

* letta - stop

* Letta orya thorna! - Stop those arrows!

* Liduen Kvaedhí - Poetic Script

* Losna kalfya iet - Release my calves.

* malthinae - to bind or hold in place; confine

* Manin! Wyrda! Hugin! - Memory! Fate! Thought!

* Moi stenr! - Stone, change!

* Nagz reisa! - Blanket, rise!

* nalgask - a mixture of beeswax and hazelnut oil used to moisten the skin

* Osthato Chetow� - the Mourning Sage

* pomnuria - my (formal)

* Reisa du adurna. - Raise/Lift the water.

* rïsa - rise

* Ristvak'baen - Place of Sorrow (baen--used here in Ur�'baen, the capital of the Empire--is always pronounced baen and is an expression of great sadness/grief)

* Sé mor'ranr ono finna - May you find peace.

* Sé onr sverdar sitja hvass! - May your swords stay sharp!

* Sé orúm thornessa hávr sharjalví lífs. - May this serpent have life's movement.

* seithr - witch

* Shur'tugal - Dragon Rider

* skölir - shield

* skölir nosu fra brisingr! - Shield us from fire!

* sköliro - shielded

* skulblaka - dragon

* Skulblaka, eka celöbra ono un malabra ono un onr Shur'tugal né haina. Atra nosu waíse fricai. - Dragon, I honor you and mean you and your Rider no harm. Let us be friends.

* slytha - sleep

* Stenr reisa! - Raise stone!

* Stydja unin mor'ranr, Hrothgar Könungr. - Rest in peace, King Hrothgar.

* svit-kona - a formal honorific for an elf woman of great wisdom

* thrysta - thrust; compress

* thrysta vindr - Compress the air.

* Thrysta deloi - Compress the earth.

* Thverr stenr un atra eka h�rna! - Traverse stone and let me hear!

* Togira Ikonoka - The Cripple Who Is Whole

* tuatha du orothrim - tempering the fool's wisdom (level in riders' training)

* vanyali - elf

* Varden - the Warders

* Vel eïnradhin iet ai Shur'tugal. - Upon my word as a rider.

* Vinr Älfakyn - Elf Friend

* vodhr - a male honorific of middling praise

* vondr - a think, straight stick

* vor - a male honorific for a close friend

* Waíse heill! - Be healed!

* Wiol ono. - For you.

* Wiol pomnuria ilian. - For my happiness

* wyrda - fate

* Wyrdfell - elven name for the Forsworn

* yawe - a bond of trust

* Zar'roc - misery

SEMIOKIMIA


Semiokimia adalah senyawa kimia yang membawa sinyal dari satu organisme ke organisme lain atau yang disebut senyawa yang terlibat dalam interaksi di antara organisme (Reddy dan Guerrero, 2004). Senyawa tersebut dapat berasal dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Semiokimia berfungsi sebagai mediator dalam interaksi suatu organisme dengan organisme yang lain, baik antara tumbuhan dengan serangga, antara serangga dengan serangga serta antara tumbuhan dengan hewan lainnya. Menurut Norin, 2007 semiokimia sering digunakan sebagai pengendali hayati terhadap hama tanaman. Strategi yang paling umum dengan menggunakan semiokimia adalah untuk menarik, merangkap, dan membunuh serangga hama.
Semiokimia dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu feromon dan alelokimia. Menurut Warsito, 2007 feromon merupakan senyawa kimia yang disekresi oleh suatu individu dari suatu spesies yang menyebabkan interaksi intraspesifik, yaitu respon spesifik dalam individu lain dari spesies yang sama. Alelokimia adalah interaksi antara spesies yang berbeda. Feromon dapat dibedakan menjadi : feromon seks, feromon tanda bahaya, feromon berkelompok (agregasi), dan feromon untuk meletakkan telur. Sedangkan alelokimia dapat dibedakan menjadi : alomon, kaeromon, sinomon dan agneomon. Tergantung organisme mana yang diuntungkan dalam berinteraksi. Alomon adalah senyawa yang diperoleh oleh suatu organisme yang apabila mengenai organisme spesies lain akan menyebabkan perilaku tertentu pada organisme penerima yang secara adaptif menguntungkan organisme pelepas senyawa tetapi bukan kepada organisme penerima senyawa tersebut. Kaeromon adalah senyawa yang dihasilkan atau diperoleh oleh suatu organisme yang apabila mengenai organisme spesies lain akan menyebabkan perilaku tertentu pada organisme penerima yang secara adaptif menguntungkan organisme penerima tetapi bukan kepada organisme pelepas senyawa tersebut. Sinomon adalah senyawa yang dihasilkan atau diperoleh oleh suatu organisme yang apabila mengenai organisme spesies lain akan menyebabkan perilaku tertentu pada organisme penerima yang secara adaptif menguntungkan organisme penerima maupun organisme pelepas senyawa tersebut. Sedangkan Agneumon adalah senyawa yang dilepaskan oleh suatu materi tak hidup yang menghasilkan suatu perilaku tertentu pada organisme penerima yang secara adaptif menguntungkan organisme penerima tetapi merugikan terhadap organisme spesies lain yang dapat berada disekitar atau pada materi tak hidup tersebut (Nordlund,1981). Semiokimia yang sering digunakan dalam mengatasi serangan serangga hama pada tanaman dapat bersifat sebagai atraktan (penarik) dan repelen (penolak) terhadap serangga hama tanaman tersebut (Mann, 2010).
Sastrodihardjo (1979) menyatakan bahwa zat penarik (attractance) ialah suatu zat yang menarik serangga menuju ke arah sumber zat itu. Sumber zat penarik terdapat pada serangga, burung, hewan menyusui, tumbuh-tumbuhan segar dan tumbuh-tumbuhan yang telah membusuk.

Koleksi Tag-tag'an Pictures

Yow, semua nya... yang senang atau hobi nge tag temen2nya di FB pake gambar lucu2an...
Nie ku-share koleksi ku!! Banyak yang ku edit sendiri...
Hope u like it... heheheh...

Tag Picture of GLEE  

Tag Picture of ONE PIECE

Tag Picture of Artis_MD 

Tag Picture of PERCY JACKSON 
 
Tag Picture of LORF OF THE RING
Tag Picture of TEKKEN 5
Tag Picture of BLOODY ROAR
Tag Picture of TWILIGHT

Tag Picture of HARRY POTTER
 
Tag Picture of NARUTO

Tag Picture of DRAGON BALL
Tag Picture of DORAEMON
Tag Picture of FASHION GIRLS
Tag Picture of DISNEY PRINCESS
Tag Picture of SUPER HERO
Tag Picture of DEATH NOTE
Tag Picture of DISNEY PRINCE
Banyak kan??? Just enjoy it yach....
Klu mang masih pengen buka aja FB ku, ada di koleksi foto... FB bsa diliat di profil...
Yow, enjoy it!!




CERPEN : My Real Happiness - part 2

*part 2* coment nya plis yup guyss... enjoy it!! ^.^
Oh ya, yg belum baca part 1, lihat di note ku sebelum nie di blogquw aja... maksih teman yang dah nyempetin baca... moga menghibur... luph u all!!!! =)

My Real Happiness - part 2

By : Monica Elizabeth

















- Dion - Arlene -
Aku terbangun dengan perasaan lelah. Mataku sembab dan pakaianku masih pakaian yang kupakai dari Jakarta. Kulihat jam di kamar, sudah pukul 11 malam. Tampaknya aku sudah tidur selama 5 jam. Setelah melamun sesaat, kuputuskan untuk ke luar. Ruang tengah sudah sepi dan gelap. Perutku lapar. Pantas saja, karena dari tadi siang aku belum makan apa-apa. Tetapi aku sedang tidak berselera sekarang. Maka kakiku membawaku ke luar, ke kolam renang belakang.

“Sedang apa di sini, Len?” suara Ronald mengejutkanku, ketika aku sudah duduk di pinggir kolam.
Aku menoleh padanya dan hanya tersenyum, tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Berikutnya Ronald sudah berada di sampingku. Bersama-sama kami duduk dalam diam. Bahkan diamnya Ronald menunjukkan betapa dia memahamiku. Aku menikmati kesunyian itu, kusenderkan kepalaku di bahunya.

“'Dia' sudah pulang?” tanyaku lirih.

Ronald menghela napas, kemudian mengangguk. Kurasa dia akhirnya menerima bahwa pingsanku tadi memang karena kehadiran sahabat baiknya.

“Aku ingin bertemu dengannya lagi... Sikapku tadi benar-benar tidak sopan!” kataku sambil menatapnya.

“Kau yakin?” Ronald bertanya setelah diam sebentar, berpikir.

Aku mengangguk meyakinkannya, walau hatiku masih galau. Aku yakin dia menyadarinya, meski akhirnya dia setuju.

“Baiklah! Besok akan kuajak dia ke rumah!”

Kembali kusenderkan kepalaku di bahunya, dan mengangguk sekali lagi. Kemudian Ronald mengelus rambutku dengan sayang.

“Kak... Arlene lapar!!”

***

Keesokan harinya, Ronald benar-benar menepati janjinya. Ketika aku keluar kamar–setelah sarapan aku berdiam diri di kamar membaca novel selama 3 jam–aku melihat ada seseorang di ruang tengah. Itu Dion, sudah pasti. Selama 6 tahun aku selalu merindukan dan membayangkan sosoknya. Jadi jika kau menyuruhku mencarinya di antara sekerumunan orang banyak sekalipun, mataku pasti langsung tertuju padanya dan menemukannya. Hebat kan? Jantungku langsung berdetak tak karuan begitu melihat sosoknya. Setelah sekian lama tidak melihat wajahnya, sekarang aku sadar betapa besar pengaruh keberadaannya terhadapku, dan aku membenci rasa ketidakberdayaan ini. Kutarik napas dalam-dalam dan kusemangati diriku sendiri.

Kulangkahkan kakiku menuju tangga ke lantai bawah. Melihatku turun, Dion yang tadinya sedang bercanda dengan mama dan Ronald, berhenti tertawa. Wajahnya agak tegang, tetapi bergerak maju juga ke arahku.

“Hai, Nẻ!” sapanya ragu.

Kurenggangkan bibirku lebar, tersenyum manis ke arahnya, dan sedikit berlari menuruni tangga, kemudian berhenti tepat di depannya. Berpura-pura kesal, aku berkata sambil meletakkan tanganku di pinggang.

“Nẻ! Nẻ! Selalu saja memanggilku begitu. Namaku Arlene tau! Panggil ‘Len’ kaya yang lainnya ‘napa?” kataku cemberut. Tetapi kemudian kutambahkan sambil tersenyum manis. “Hai, Yon! Apa kabar?”

Wajah Dion menunjukkan dengan jelas keterkejutannya. Tetapi akhirnya dia juga ikut tersenyum. Dan aku harus terus berusaha keras menenangkan jantungku–yang dari awal selalu berusaha mangkhianatiku–ketika melihat senyuman mautnya itu. Hhh... poor me...

“Mana bisa kau kupanggil ‘Len’! Dari kecil kau itu ‘Nẻ’-ku! Jadi jangan pernah berharap aku akan mengikuti orang lain dan mulai memanggilmu dengan... apa??? 'Len?'” katanya sambil mengerutkan dahi. “Oh, jangan berharap!” dengusnya kemudian tersenyum.

Whats? ‘Nẻ-ku’? Oh, God! Bantu aku menghadapi pria tidak peka ini. Jeritku dalam hati. Seenaknya saja dia bilang begitu tetapi pergi meninggalkanku dulu. Dan kenapa juga dia harus sesering itu tersenyum. Sudah cukup berat menahan jantungku agar tidak meledak melihat wajahnya. Jadi tidak perlu ditambah dengan tersenyum segala. Arghhh!!!

Maka hari itu pun berlalu dengan aku mati-matian menahan diriku agar tidak hancur berkeping-keping. Tetapi aku toh berhasil lumayan baik. Aku bisa berusaha bersikap seceria dan secerewet tingkahku dulu. Kami melewati hari itu dengan mengobrol. Jangan salah, bukan mengobrol berdua maksudku, tetapi bertiga dengan Ronald. Terkadang mama ikut bergabung. Pokoknya sedapat mungkin aku menghindari hanya tinggal berdua dengan Dion. Mana sanggup aku! Bisa-bisa aku mulai menangis.

Tetapi sorenya Ronald mengkhianatiku. Setelah berenang seharian dengan Dion–tentu saja aku tidak ikut, aku hanya ngelihatin mereka dari pinggir kolam–Ronald minta ijin mau ke rumah Diana, pacarnya tersayang. Bagus! Sekarang aku harus gimana? Tidak kehabisan akal kuajak dia ke dalam dan menemani mama memasak. Jangan sampai kami harus berduaan. Tapi setelah selesai, mama berkata padaku dan Dion.

“Len, papa ngajak mama pergi ke pesta pernikahan anak rekan bisnisnya. Kamu di sini aja sama Dion, ya?” katanya ringan. “Dion, temenin Arlene selama tante pergi, ya!”

Oh, tidak! Mataku terbelalak. Untung saja piring yang kupegang tidak jatuh dan pecah.

“Beres, Tan! Titipin saja Arlene sama Dion! Kujamin dia tidak akan berbuat nakal malam ini!” Balas Dion sambil nyengir lebar. Dia pasti sama sekali tidak memperhatikan ekspresiku yang penuh horor. Kemudian Dion menarikku ke kolam renang, sementara mama bersiap-siap ke pesta.

***

Kami duduk di kursi kolam berdua. Hanya berdua! Dan aku benar-benar takut. Kenapa aku tidak mampu tenang sedikitpun. Aku baru menyadari kalau dari tadi kami saling berdiam diri. Kulirik Dion yang duduk di sampingku sekilas. Dia sedang bersandar di kursi kolam sambil memejamkan mata. Ekspresinya tenang sekali. Sejenak aku tidak mampu mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Tapi cuma sejenak!
Akhirnya kuikuti dia. Kusenderkan punggungku di bangku kolam senyaman mungkin, kupejamkan mata, dan kuhirup napas dalam-dalam, menikmati kesunyian itu. Bersama Dion di sampingku. Ajaib! Detak jantungku mulai mereda, dan aku bisa bernapas teratur.

“Sudah tenang?” suara Dion menyadarkanku kembali. Kubuka mataku dan kulihat dia sedang tersenyum menatapku.

“Oh, berarti dari tadi kau sadar ya, dengan tingkahku...” kataku muram dan malu pada diri sendiri. Kupandangi arah lain, tidak mampu melihat wajahnya yang tersenyum geli melihatku.

“Ayolah, Nẻ... Aku mengenalmu sejak kecil! Tentu saja aku tahu kapan kau bersikap ceria dan kapan kau berusaha bersikap ceria!” tambahnya masih sambil tersenyum.

“Oh, diamlah! Lama ga’ ketemu kau tambah usil, tahu! Makin cerewet lagi!” Kataku cemberut, tetapi belum juga melihat ke arahnya.

“Apa keberadaanku sebegitu mengganggumu, Nẻ?” bisiknya lirih.

Mendengar perubahan suaranya, aku langsung menoleh. Dion sedang menatapku nanar. Matanya tidak lagi berbinar-binar seperti seharian ini, melainkan benar-benar sedih.

“Kau bicara apa sih?”

Dion mendesah, masih menatapku. Jantungku mulai berdebar tak karuan lagi. Debarannya tidak terasa manis seperti orang yang sedang kasmaran, tetapi menyakitkan. Kemudian dia tersenyum sedih.

“Kau tidak bahagia bersamaku.” Itu bukan pertanyaan tetapi pernyataan. “Maaf kalau aku mengganggumu.”

Aku tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Sebentar lagi air mataku pasti akan tumpah. Kurasa dia juga menyadarinya. Seketika itu juga ekspresinya langsung berubah. Dia tersenyum cerah ke arahku.

“Oh, sudahlah tidak usah dibahas lagi. Aku sudah berjanji ke mamamu akan menjagamu, jadi aku tidak mau membuatmu pingsan seperti kemarin lagi!” katanya sambil nyengir. Kemudian dia menambahkan, “So, kudengar kau sekarang bekerja di Jakarta! Cihuy, jadi wanita karir nih ceritanya!”

Aku menggangguk dan berusaha tersenyum. Tetapi aku yakin wajahku masih terlihat sedih. Kemudian aku berkata seceria mungkin.

“Jadi wanita karir, kerja di metropolis, dan tinggal di apartemen! Keren kan?”

“Wah tinggal sendiri di apartemen? Gaya banget sih? Memang sejak kapan kau bisa mengurus diri sendiri? Dulu masak air saja bingung mau ditambah bumbu apa!” Katanya sinis, kemudian tertawa ngakak. Ya ampun, sudah lama sekali aku tidak pernah melihatnya tertawa. Dadaku langsung berdesir.

“Ukh... Bawel!” Semprotku dan kembali merajuk.

“Jadi pacarmu sekarang sedang menunggu di Jakarta?” katanya ringan masih tersenyum lebar. Gampang sekali dia bertanya seperti itu. Dia tidak sadar sudah menghujam hatiku lebih dalam. Memangnya ini hal sepele?

“Sejak putus darimu, aku belum pernah pacaran dengan siapapun!” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Tampaknya aku benar-benar kesal melihat sikap cueknya tentang hubunganku dengan cowok lain. Dan efeknya benar-benar memuaskan. Senyumnya langsung hilang dan air mukanya kembali bersedih. Tetapi tiba-tiba saja dia tersenyum, meski matanya masih sedih.

“Jadi, kau tidak bisa melupakanku selama ini? Itukah sebabnya kau tidak mencari cowok baru? Huh... apa aku sebegitu berartinya buat mu???” katanya sok cuek, cengiran mengejek muncul di bibirnya.

“Ya! Aku belum bisa melupakanmu!” Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku begitu jujur, padahal selama ini aku selalu menyangkalnya. Aku benar-benar mati rasa. Bahkan aku tidak lagi merasakan detak jantungku. Benar-benar dingin...

“Nẻ...” Dion terkesiap.

“Kau merasa bangga kan? Sudah berhasil membuatku begini. Mencoba pacaran lagi saja aku ga’ bisa. Kau selalu menghantuiku! Selamat ya! Perlu ku beri standing applause?” Bibirku terus bicara, mataku menatap tajam wajah Dion yang semakin lama semakin galau. Cukup Arlene! Jerit suara hatiku. Tetapi segala hal dari masa lalu datang menghantamku tanpa ampun. Kehangatan dalam diriku sudah hilang. Aku ingin Dion menyesal telah membuatku begini.

“Hentikan cara bicaramu yang dingin itu! Kau tidak seperti Arlenẻ yang kukenal!” Ingatnya.

“’Arlenẻ yang kau kenal?’ Bagaimana Arlenẻ yang kau kenal, Dion? Aku memang bukan lagi Arlenẻ yang kau kenal! Aku bukan lagi ‘Nẻ-mu’! Kau yang sudah menghancurkanku berkeping-keping!” kataku datar sambil mengangkat bahu, cuek, dingin.

“Arlene, sudahlah! Jangan begini, kumohon... Kalau kau ingin marah, marahlah padaku! Tetapi jangan bersikap dingin begini! Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri...” Katanya memohon.

“Kenapa kau harus pulang ke Indonesia, Yon?” kataku padanya. Kali ini suaraku lirih, berbisik. Rasa sakit kembali menghantam hatiku. Luka lama itu kembali terbuka. Sakitnya bertubi dan tidak mau mereda. Aku menunduk memegang dadaku, berusaha tetap tenang.

“Kau tidak senang ya aku pulang?” balasnya sedih.

Aku tidak menjawab pertanyaannya, atau membalas pandangannya. Luka hatiku sudah menganga lebar sekarang. Rasanya benar-benar sakit. Akhirnya aku tidak mampu lagi menahan air mataku, beberapa tetes air mata jatuh kepangkuanku.

“Kau menangis?” Ujarnya terperangah. Tangan Dion terulur seolah ingin meraihku, tapi kemudian dia menjatuhkannya kembali, kemudian berbisik, “Nẻ, kumohon jangan sedih...”

Aku memberanikan diri menatapnya. Dion terlihat terpukul sekali. Aku jadi tidak tega melihatnya. Dasar! Bisa-bisanya dia membuatku merasa bersalah di saat sepeti ini. “Maaf...”, ujarku lirih.

“Tidak-tidak! Kau tidak boleh minta maaf! Akulah yang harus mengatakannya. Dari semua hal yang bisa kukatakan padamu hari ini, seharusnya kata maaf adalah hal pertama dan terpenting yang kuucapakan.” Katanya memarahi diri sendiri. “Tetapi, aku ga’ tau bagaimana cara memulainya, Nẻ! Rasanya menerima maafmu pun–seandainya kau nanti memaafkanku–aku juga tak pantas, melihat begitu besar luka yang sudah ku toreh.” Dion berkata sedih sambil menatapku lekat-lekat.

Aku mencoba tersenyum, air mata masih mengaliri pipiku. “Jadi kau pulang jauh-jauh ke Indonesia cuma pengen minta maaf?”

Melihat senyumku, dia juga tersenyum sidikit, meski matanya masih sedih oleh rasa bersalah.

“Tidak juga... Sebenarnya aku pulang karena memang harus pulang! Di sini kan rumahku!”

Aku bingung dengan perkataannya. Mencoba memahami maksud dibaliknya. Tetapi aku masih bingung, maka aku bertanya, “Di sini rumahmu? Maksudnya di mana?”

“Haha... Kau tidak berpikir yang kumaksud ‘rumah’ adalah rumahmu kan? Bukan itu... Aku bilang di sini rumahku, Indonesia rumahku, Malang rumahku! Jadi sudah sewajarnya aku pulang ke rumah, kan?” Balasnya. Matanya terlihat cerah melihat kebingunganku, tetapi sangat lembut, membuatku sesak napas.

“Ta... Tapi, dulu kau bilang tidak akan pulang ke sini lagi! Kau bilang akan selamanya tinggal di Amerika!!”

“Andai aku bisa... Tapi aku tak sanggup!” Ujarnya lembut.

“Bisa tidak kau langsung to the point aja? Kenapa kau pulang ke Indonesia??” Kataku sedikit membentak. Kutekuk mukaku, tangan kulipat di dada, tidak sabar menanti jawabannya.

Dion kembali tertawa, “Ah... Aku sudah lupa kalau kau manis sekali saat marah!”

Aku melotot menatapnya. Apa-apaan sih cowok ini! Pake nge-goda segala lagi! Sejenak aku berpikir, bagaimana kalau seandainya nanti Dion akan pergi lagi ke Amerika? Apa aku sanggup bertahan untuk kedua kalinya? Aku menggelengkan kepala, berusaha membuang jauh-jauh perasaan itu. Itu bisa dipikirkan nanti. Sekarang aku harus membereskan masalahku dengan pria di hadapanku ini dahulu.

Melihatku marah, akhirnya Dion berhenti tertawa. “Okay..okay.. Maaf! Aku tidak akan bercanda lagi! Jadi, sampai mana tadi... Oh ya! Kenapa aku pulang ke Indonesia?” Dion menarik napas sebentar, kemudian perlahan–sangat perlahan, sedikit ragu mungkin–dia meraih tanganku dan menggenggamnya. Irama jantungku langsung bergemuruh. “Aku pulang karena kau. Aku merindukanmu, teramat sangat rindu! Itu seharusnya sudah jelas sewaktu kau melihatku, masa kau tidak menyadarinya kemarin? Kau malah langsung pingsan seperti melihat hantu!” Dion berdecak sambil mengeleng-gelangkan kepalanya, kemudian menarik napas. “Aku tidak sanggup hidup jauh darimu, Nẻ!” Tambahnya lembut.

Syok, aku tidak tahu harus berkata apa. Jelas aku bahagia. Tidak ada kebahagiaan lain yang kuimpikan selain ini sejak dulu. Tetapi kemudian aku marah. Apa dia bermaksud mengatakan kalau dia masih menyayangiku, kemudian kembali pergi meninggalkanku? Bagaimanapun aku masih ingat, kalau dia bilang akan tinggal di Amerika selamanya. Kutarik tanganku dengan kasar dari genggamannya–dengan berat hati tentu saja. Dion kaget, kemudian ekspresi sedih memenuhi wajahnya.

“Aku sudah terlambat, kan? Kau sudah tidak bisa memaafkanku? Aku tahu, aku tidak pantas mendapatkannya! Aku sudah tahu itu...” Bisiknya lebih kepada diri sendiri.

“Aku bukannya tidak bisa memaafkanmu! Kau sudah mendapatkannya sejak dulu. Aku hanya marah! Mengapa kau jahat sekali, mengatakan hal tadi kemudian bermaksud pergi meninggalkanku lagi. Bagaimana, menurutmu aku bisa bertahan setelah ini?” Air mata kembali menetes di pipiku.

Dion menatapku bingung, kemudian matanya semakin melebar. “Kau berpikir aku akan meninggalkanmu lagi? Apa kau tidak ingat apa yang tadi kukatakan?” Digelengkannya kepalanya frustasi. Kembali diraihnya tanganku–kali ini tanpa keraguan–kemudian digenggamnya erat-erat. “Tidakkah kau mengerti? Aku tak sanggup hidup tanpa dirimu Arlene. Sejak kita berpisah, kau selalu hadir di pikiranku, di mimpiku, bahkan di setiap hal yang kulakukan. Mana mungkin aku bisa pergi lagi? Apalagi sekarang, ketika aku kembali melihat wajahmu, senyummu, air matamu...” Dihapusnya air mata yang mengalir di pipiku, sentuhannya mebuat dadaku bergemuruh, pasti mukaku merah sekali sekarang. “Mana bisa aku meninggalkanmu lagi? Mana mungkin aku sanggup? Aku begitu mencintaimu.”

Oh, God! Dia bilang dia mencintaiku! Apa aku bermimpi? Tetapi kenapa mimpi ini terasa begitu nyata? Aku bahkan bisa merasakan kehangatan tangannya dan kelembutan matanya. Jadi, semua ini nyata? Maka tangisku pun pecah. Kubiarkan suaraku pecah oleh tangis. Kutundukkan kepalaku, agar dia tidak melihat wajahku, tanganku masih dalam genggamannya.

Dion mengulurkan tangannya, diangkatnya daguku, kemudian menatapku penasaran. “Ada apa, Nẻ? Kenapa kau menangis? Kau tidak bahagia? Kau sudah tidak mencintaiku lagi?”

Kutatap matanya yang sedih. Sambil terisak, aku berkata “Kalau begitu, mengapa dulu kau memutuskanku begitu saja? Kenapa kau bilang kau tidak akan kembali lagi? Kenapa kau bahkan tidak membiarkanku menyatakan pendapat?” kuhentakkan tanganku yang berada dalam genggamannya, dan kupukulkan ke pahanya. “Kenapa kau tidak memintaku, untuk menunggumu?” Ujarku terbata-bata oleh tangis.

Dion menggenggam kembali tanganku dengan lembut, suaranya pelan sarat penyesalan. “Apa menurutmu yang harus kulakukan, Nẻ? Memintamu untuk menungguku dan membatasi kebebasanmu? Itu namanya egois... Aku tidak berhak mendapatkannya. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku sadar sikapku kejam sekali terhadapmu waktu itu. Habis, mau bagaimana lagi? Itu satu-satunya cara agar aku sanggup berpisah darimu.” Dia menarik napas sebentar kemudian kembali bicara, “Aku belajar dengan keras di sana, berfikir dengan begitu aku bisa mengalihkan bayanganmu dari pikiranku. Tetapi aku tidak berhasil, dan mamaku menyadarinya. Setelah itu, kami bicarakan hal ini dengan papa–kami bertengkar hebat malam itu. Tetapi akhirnya beliau setuju membiarkanku pulang ke Indonesia, asal kuliahku berhasil dan memperoleh pekerjaan di sini dengan tanganku sendiri. Dan inilah akhirnya, aku di sini berhasil meraih impianku kembali berada di dekatmu.” Katanya sambil tersenyum. Ditatapnya mataku, “Maafkan aku! Maaf sudah membuatmu sengsara selama 6 tahun ini.” Dion bangkit dari duduknya, ditariknya tanganku mengajakku berdiri. Dibelainya pipiku yang basah dengan lembut sambil menatap mataku mesra. “Hei...” bisiknya lembut, ”Masih layakkah aku memperoleh cintamu?”

Dan aku pun tak sanggup lagi menahan diriku. Kutarik tanganku dari genggamannya kemudian kulingkarkan tanganku ke lehernya dan kembali menangis di dadanya. Dion membalas pelukanku sepenuh hati. Dipeluknya aku erat-erat seakan tidak ingin melepaskanku. Selama 5 menit, moment itu terus berlanjut, hingga akhirnya dia berbisik lembut di telingaku, “Apa ini artinya aku boleh mencintaimu?”

Aku mengangguk di dadanya, dan Dion memelukku semakin erat.
Dia kembali bertanya, “Would you like to be my girl... again?” dia tertawa kecil ketika mengatakannya.

Aku melepaskan pelukanku, kemudian menatapnya. Kupasang wajah cemberut. Sebaliknya wajah Dion penuh dengan kebahagiaan, tangannya masih memeluk pinggangku lembut. “Kau harus berjanji untuk tidak melakukan hal ini lagi padaku! Kau tidak boleh seenaknya pergi dan pulang tanpa mengajakku!” Dia tersenyum mendengar nada suaraku yang kesal. “Kalau kau melakukannya lagi, mungkin aku bisa mati. Dan aku pasti akan menghantuimu seumur hidup!”

Kegembiraan langsung hilang dari wajahnya, kali ini air mukanya penuh horor. “Kau tidak pernah berpikir untuk bunuh diri kan, sebelum ini? Iya kan, Nẻ?” Digenggamnya wajahku, menatap mataku, mencari kejujuran di sana.

“Tentu saja tidak! Memangnya aku sudah gila? Tetapi kalau kau melakukannya lagi, aku mungkin akan benar-benar gila!” Kutekan kata gila ketika bicara.

“Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!” Bisiknya serius, “Aku berjanji!” Kembali dibawanya aku dalam pelukannya. Aku membalasnya dengan senang hati. Tidak ada tempat lain yang lebih nyaman daripada pelukan Dion. Tetapi kemudian aku menghela napas. Dia merasakannya, maka di lepaskannya pelukannya dan ditatapnya mataku. “Ada yang salah?” tanyanya ketika melihat wajahku menjadi sedih.

Kugelengkan kepalaku, menyesali. “Kita tetap akan berjauhan. Kau di Malang, sementara aku punya pekerjaan di Jakarta.” Aku kembali ingin menangis memikirkannya.

Dion tertawa, membuatku bingung. Kemudian dengan mata jahil ditatapnya aku. “Kau pikir aku akan sembarangan mencari pekerjaan? Aku menyelidikimu dulu, sayang! Tentu saja Ronald yang membantuku mencari informasi tentangmu. Aku sudah dapat promosi untuk bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Dan sebagai tambahan, tempatnya cuma berjarak 10 menit berjalan kaki ke apartemenmu.”

Aku terkesiap hingga berteriak, “Sungguh?”

Dion hanya mengangguk sambil tersenyum. “Tidak ada lagi yang bisa memisahkan mu dariku!” Katanya tegas sambil menatapku penuh sayang.

Aku tertawa gembira. Kupeluk dia sambil meloncat-loncat. Dion malah memelukku sambil sedikit mengangkatku. Dia ikut tertawa bersamaku. Jantungku berdebar kencang sekali. Tetapi kali ini tidak ada kesakitan. Yang ada hanya perasaan bahagia. Rasanya sangat manis. Jika Eva berkata, kalau aku adalah gadis yang paling bahagia sekarang, maka aku akan menjawab “YA!” dengan tegas. Tidak ada kebahagian lain yang kuinginkan selain ini.

Dion menatapku sekarang. Aku baru sadar wajah kami sudah sangat dekat, dan semakin mendekat. Aku mendengar dia bertanya pelan, “Boleh?” Aku tidak menjawabnya, tetapi kupejamkan mataku dan menunggu. Aku tegang sekali, dapat kurasakan darah mengalir deras ke wajahku. Pasti tinggal sedikit lagi, ketika...

“Grubyak!”

“Auw!”

“Ups, ketahuan, deh!”

Kubuka mataku lebar-lebar. Kulihat Dion melakukan hal yang sama. Bibirnya sudah tinggal 2 cm lagi dari bibirku. Siapa sih yang mengganggu di saat seperti ini?

“Mama? Papa? Kak Ronald? Ngapain sih kalian?” Aku benar-benar malu. Refleks kujauhkan tubuhku dari Dion. Tetapi tangan Dion dengan mesra tetap merangkul pinggangku. Dion hanya tertawa, disusul dengan yang lain. Sementara aku malah menunduk berusaha menyembunyikan wajahku yang sudah merah membara. Aku yakin Dion bisa merasakan panas yang menggelora dari tubuhku. AKU MALU Banget!! Hehe...





                     THE END
                      - By : Monca_Swan -

CERPEN : MY REAL HAPPINESS (Part 1)





"Hmmm... lgi pengen berbagi cerpen... hehe... Tulisan favorit ku ini... pi kepanjangan makanya kubuat bersambung yupzz... hope u like it... Coment in yup guyss... Plizz enjoy... ^___^"


MY REAL HAPPINESS (Part 1)

by : Monica Elizabeth



Aku menatap dari balik jendela sambil melamun. Sekelabatan pepohonan dan perumahan silih berganti dengan cepat. Kadang yang terlihat hanya hamparan tanah kosong, deretan sawah, atau sungai kecil dengan air yg keruh. Semakin lama kawasannya digantikan dengan bangunan yang lebih besar dengan banyak pertokoan di sekitarnya. Langit mengeluarkan warnanya yang kemerahan di ufuk barat. Rasa letih yg sama sekali tidak ada hubungannya menyerangku. Sekali lagi suara iri Eva terdengar dalam benakku.

“Lo sempurna banget ya, Len! Sudah cantik, baik, kaya, pintar lagi! Baru tahun lalu lo dapat pekerjaan setelah lulus dengan nilai kumlaut, sekarang udah di tawarin naik pangkat! Nah, gue? Tetep mandhek aja di sono! Bisa bejamur gue lama-lama! Makanya wajib lo syukuri ntu, jadi wanita yang paling bahagia sedunia.”

“Hhh...,” Aku menghela napas. Kualihkan pandangan dari kaca, kali ini melamun menatap senderan kursi di depan. Benarkah? Suara hatiku bertanya. Benarkah aku orang paling bahagia di dunia?
Sekelabatan bayangan masa lalu muncul tanpa permisi. Peristiwa yang sudah lama terkubur jauh di relung hatiku. Aku menggelengkan kepala berusaha menghilangkannya. Tidak!! Hati kecilku berontak menjawab pertanyaanku sendiri.
“Hhh...,” kembali kudesahkan napasku, ragu mengakuinya. Yah... kataku kembali pada diri sendiri, menegaskan, Aku masih kosong!!

“Sudah sampai di rumah, Non!” suara lembut Pak Nor membuyarkan lamunanku. Tampaknya karena kebanyakan bengong aku ga’ sadar sudah sampai di rumah.

“Non Arlene cape banget, ya? Dari Airport Surabaya sampai tiba di Malang, Non diam aja. Padahal dulu Non cerewet sekali kalau di dalam mobil, sukanya ngegodain Pak Nor!” serunya polos sambil cemberut.

Aku mengangguk menyetujui sambil tertawa mendengar ocehannya. Dasar supirku yang satu ini, dari dulu ga’ pernah berubah, usil tapi polosnya ga’ kira-kira. Perasaan nyaman karena ucapannya mengingatkanku kalau aku memang sudah di rumah. Dia tersenyum dan segera turun dari mobil untuk membukakan pintuku, kemudian menurunkan koperku dari bagasi.

Aku menatap rumah di depanku. Rumah besar beratap cokelat mengkilat. Terdiri atas 2 lantai yang membuatnya terlihat megah dan elegan. Cat dindingnya berwarna putih cemerlang seperti baru.
Sudah 5 tahun... Renungku dalam hati. Tapi semuanya masih sama dengan yang kuingat. Aku tersenyum cerah, menghirup napas dalam-dalam, berharap itu bisa mengisi kerinduanku akannya. Aku memang benar-benar sudah pulang!

“Kangen rumah ya, Non!” suara wanita tua yang sudah kukenal menyapaku.

“Mbok Inah!” sapaku ceria. Tanpa berpikir langsung ku peluk beliau. “Kangen..”, tambahku manja ketika melepas pelukanku.

“Haha…” dia tertawa lembut, sambil mengusap ujung matanya. “Kami semua yang paling kangen sama Non Arlene! Sejak Non Arlene pergi, rumah jadi sepi! Dasar si non ini, ndak pernah mau pulang selama kuliah. Bahkan liburan juga! Udah kerja pun tetep ndak pernah sempet pulang ke Malang!” katanya penuh sayang.

“Sudah-sudah, Bu! Biarkan Non Arlene istirahat dulu, lagipula pasti Nyonya dan Tuan sudah menunggu di dalam!” tegur Pak Nor yang sudah ada di sebelah kami dengan menjinjing koperku.

Aku masih tersenyum sewaktu melangkah ke pintu masuk. Ketika itu aku baru menyadari ada mobil asing yang diparkir di garasi rumahku. Tetapi rasa hangat dan bahagia karena akan bertemu papa, mama, dan kakakku, membuat rasa penasaran itu pergi begitu saja. Dengan ceria kubuka pintu depan kemudian bergegas menuju ruang keluarga. Ada beberapa orang di dalam situ, tapi suara keras mama yang memfokuskanku.

“Arlene!! Mama kangen banget!” katanya sambil memelukku hangat, aku membalasnya. “Kamu koq kurusan? Lihat ini wajahmu putih pucat, sama sekali ga’ sehat! Ga’ pernah olahraga, ya? Makan ga’ teratur?” Mama langsung memborbandirku dengan berjuta pertanyaan cemas. Aku hanya tersenyum.

“Sudah dong, Ma! Gantian, papa juga kangen sama putri kecil kita ini!” kata papa melepas pelukan mama kemudian berganti memelukku sayang.

“Aku sudah bukan putri kecil papa lagi!” kataku pura-pura cemberut, padahal mataku masih berbinar-binar bahagia. “Mana kak Ronnie?” tanyaku pada mereka berdua.

“I’m here, my little sister!” teriak kakakku sambil menyongsong memelukku kuat-kuat, sedikit mengangkatku. “Wusyet, da! Lama di Jakarta bukannya tambah tinggi malah tambah pendek adikku ini. Dan kapan kau mau berhenti memanggilku Ronnie? Namaku Ronald tau! Bukan Ronnie, hiiii… mengerikan!”

“Haha…” aku tertawa bahagia sambil menatap mereka semua, dan kemudian aku sadar masih ada satu orang lagi di ruangan itu.

“Halo, Nẻ!” sapa seorang pria yang baru saja beralih ke depanku, menatapku.

Sejenak aku terdiam oleh syok. Segala hal di masa lalu berebut masuk ke benakku, menghantamku. Cara panggilan itu, suara itu, senyum itu, dan wajah itu. Aku belum siap dengan reaksiku sendiri. Kepalaku pusing oleh syok. Aku merasa seluruh ruangan berputar. Sekonyong-konyong aku terjatuh karena lututku–yang tiba-tiba mati rasa–tidak mampu menahan berat tubuhku.

“Arlene!!” mama berteriak memanggil namaku, tetapi tangan hangat yang sangat kukenal–bahkan kuimpikan–memegangku, membantuku berdiri. Tubuhku langsung gemetar seperti demam. Aku mau melepaskannya, tetapi menahan berat tubuhku pun aku tak sanggup. Aku ingin menangis karena tidak mampu melepaskan diri dari tangan hangat itu. Tapi entah mengerti atau kebetulan, dia memberiku ke tangan Ronald. Rasa gemetar itu langsung berkurang digantikan kehampaan yang tiba-tiba saja menyergapi hatiku. Aku masih belum sanggup berdiri, jadi Ronald mengangkatku ke kamar tamu, karena kamarku ada di lantai 2.

“Wajahmu pucat sekali Arlene! Apa kau sebegitu kelelahannya? Kenapa tidak bilang dari awal?” seru mama ketika aku sudah dibaringkan di tempat tidur. Aku tidak menjawab. Air mata menetes ke telingaku.

“Sebaiknya kau istirahat dulu, sayang!” kata papa menentramkan. Aku mengangguk mengiyakan.

“Kalau perlu sesuatu, kau boleh memanggilku!” Ronald berkata sambil menatapku penuh arti, seperti tahu apa penyebab aku tadi hampir pingsan. Kemudian mengelus dahiku sebentar dan beranjak keluar.

Dan dia! Dia hanya berdiri di ambang pintu. Terus menatapku penuh kesedihan, penyesalan, rasa khawatir, dan–kalau aku tak salah menilai–penuh kerinduan. Tetapi dia tidak berani mendekat, menyadari penolakanku. Diapun ikut beranjak keluar dengan enggan ketika Ronald menatapnya penuh peringatan, meninggalkan aku sendirian di kamar.
Sendirian membuatku teringat semua kenangan itu lagi. Kenangan yang sebenarnya sudah kukubur di hatiku yang terdalam dengan sempurna selama 6 tahun ini.

***

Namanya Dion. Anak teman baik Papa yang sekaligus relasi kerjanya. Teman baikku dan Ronald sejak usia SD. Dulu kami selalu bermain bersama. Aku yang paling muda sekaligus cewek sendiri, paling sering digoda oleh mereka berdua. Tetapi dia juga selalu melindungi dan membantuku saat aku butuh pertolongan.

Aku sangat menyayanginya. Dion sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Hingga aku semakin sadar seiring berjalannya waktu, dia mulai memperhatikanku bukan seperti adiknya lagi. Tapi tingkahnya masih sama jahilnya dengan biasanya. Jadi aku masih belum tahu perasaanku sendiri terhadapnya. Aku baru sadar kalau aku menyayanginya lebih dari seorang kakak sejak menginjak akhir kelas 3 SMP. Dia sudah kelas 1 SMA saat itu, sama seperti Ronald, dan dia menyadari perasaanku. Maka kamipun jadian.
Aku bahagia. Kalau pada saat itu Eva bilang aku wanita paling bahagia di dunia aku akan bilang ‘ya’ dengan tegas. Dia sangat menyangiku seperti aku padanya. Mengenalnya dari kecil membuat kami sama2 tahu sifat asli masing-masing. Jadi kami sangat cocok. Pasangan paling serasi yang selalu membuat iri, begitulah yang sering kudengar dari Ronald dan teman-temanku. Hingga suatu saat, pas di tahun ke-2 hari jadian kami hal itu terjadi.

Aku pergi ke rumahnya, menantinya pulang dari sekolah. Sudah beberapa minggu itu hubungan kami agak renggang. Aku tidak tahu penyebabnya. Tapi di hari spesial kami berdua ini, mana boleh aku sok jual mahal. Meski harga diriku tinggi aku harus bisa mengalah, daripada masalah berlarut-larut tidak selesai. Malam itu, Dion pulang dengan muka muram, dia kaget melihatku duduk di ruang tamunya.

“Oh, Nẻ! Kau...” Dion terkejut. “Ngapain kau di sini??” katanya tiba-tiba galak.

“Kenapa marah? Apa salah kalau aku datang?” balasku tidak dapat menyembunyikan keterkejutanku akan reaksinya.

“Kau tidak menjawab pertanyaanku!!” balasnya sengit dan dingin. Aku kaget, tapi berusaha menguasai diri. Sabar Arlene, jangan sampai hari istimewa ini hancur. Baru kemudian dia menyadari ada kue tart mini di meja. Dan Dion pun mengerti, tapi masih saja bertanya padaku.

“Buat apa bawa-bawa kue segala?” katanya masih dingin.

“Ehm, masa tidak ingat, Yon?” kataku tersenyum berusaha terlihat ceria. “Hari ini genap 2 tahun kau menembakku. Ingat?”

“Ada-ada saja!” hanya itu yang dia katakan. Maka kemarahanku meledak.

“Kau ini ada apa sih? Selama sebulan ini kau terus-terusan bersikap dingin padaku! Kalau aku sudah marah, kau hanya bilang maaf tanpa menjelaskan dan bilang ini semua salahmu, bukan salahku. Tapi besoknya sikapmu kembali dingin dan ketus. Kalau ada masalah, kumohon bilang padaku. Kita pasti bisa menyelesaikannya bersama.” Kataku sambil mengguncang-guncang lengannya dan menatap matanya lekat-lekat. Sesaat matanya tampak sedih, tapi kemudian mata itu kembali dingin.

“Maaf!” cuma itu yang dia ucapkan. Aku pun langsung terduduk dan mulai menangis. Hari ini Dion kejam sekali. Biasanya setelah aku marah seperti barusan, dia akan memelukku, menentramkanku, dan bilang maaf dengan sepenuh hati. Tapi kali ini dia begitu dingin.

“Nẻ, kita putus saja!”

Jleger!!! Aku seperti tersambar petir mendengarnya. Kata-kata itu meluncur begitu cepat dari bibirnya. Tanpa pertimbangan, tanpa peringatan. Seakan hal itu hanyalah masalah sepele. Aku hanya diam menatapnya, tidak mampu berkata apapun, akibat syok. Air mata mengalir deras di pipiku. Tetapi dia memalingkan wajahnya, tidak ingin menatapku.

“Ada apa ini, Dion? Kenapa kau membuat Arlene menangis? Bukannya hari ini hari spesial kalian berdua?” suara Lia, mama Dion, tiba-tiba memecahkan kebisuan kami berdua.

“Mama tidak usah ikut campur! Bukankah ini yang mama inginkan?” ujar Dion.
Aku menatap bingung ke arah mama Dion. Aku sangat menghormati beliau. Selama ini tidak ada yang mengganggunya tentang hubunganku dengan putranya. Lia terkejut, kemudian mengerti.

“Yah… tapi kau tidak bisa menyakitinya tanpa menjelaskan apa pun, Dion!”

“Argh, sudahlah!” Dion hendak meninggalkan ruangan, meninggalkanku begitu saja tanpa menjelaskan apa-apa. Aku tidak terima! Kuhalangi jalannya.

“Kau tidak bisa pergi, setelah memutuskanku–tanpa menjelaskan apapun!” Jeritku histeris.

“AKU AKAN PERGI!! Pergi dari Indonesia dan tidak akan kembali lagi! Puas??” Balasnya berteriak. Aku tertegun.

“Pergi? Kemana?”

“Ke Amerika! Melanjutkan kuliah di sana dan hidup di sana! Sesuai keinginan papaku tersayang! Sekarang kau mengerti? Ini yang terbaik!” katanya putus asa.

“Tapi… tapi kau tidak perlu minta putus, Yon! Cukup bilang ‘Tunggu Aku’!” kataku memohon. Sekarang aku mengerti kenapa sikapnya berubah selama sebulan ini. Dan air mata semakin deras mengalir di pipiku. Aku takut!

“Tidak!” katanya tegas. “Tidak, Nẻ! Kumohon mengertilah! Lebih baik kita putus, sehingga kau bebas melakukan apa pun! Aku tidak akan kembali lagi ke sini, mengertilah! Okay!” dia menyentuh pipiku dan menghapus air mataku. Matanya sedih tapi dia tidak bilang apa2 lagi.
Dion menelpon Ronald setelah itu dan memintanya menjemputku. Sementara itu dia masuk ke kamarnya meninggalkanku berdua dengan mamanya di ruang tamu.

Itu pertemuan terakhirku dengan Dion. Selama 3 hari dia terus menghindariku. Dan setelah itu aku hanya tahu kalau pada hari keempat dia sudah pergi dengan hanya meninggalkan surat padaku. Dia bilang aku akan selalu menjadi cinta pertamanya. Dan dia memintaku untuk melupakannya. Semudah itu! Segampang itu dia memintaku melupakan segalanya. Dia bahkan tidak memberiku kesempatan menyampaikan pendapatku.

Sejak itu aku membencinya. Selama setahun aku mengutukinya. Tapi sementara itu aku juga sadar aku tidak bisa melupakannya. Dia terus mengisi hatiku. Seiring berjalannya waktu rasa benci itu sudah lenyap digantikan rasa rindu. Selama 5 tahun aku terus memimpikannya. Berusaha melupakannya, tetapi tidak pernah mampu. Aku sudah lama menguburnya dalam benakku, meskipun dia selalu muncul di alam bawah sadarku. Aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi sekarang.

Oh... dia semakin tampan! Dia sudah menjadi pria dewasa sekarang.
Bodohnya kau Arlene!! Kenapa juga pake’ pingsan segala! Kaya ga’ ada waktu lain saja! Bagaimana kalau dia cuma sebentar di Indonesia? Bersikaplah wajar! Jadilah sahabatnya! Aku mendengar suara hatiku. Yah... aku akan bicara padanya, tapi sekarang aku harus tidur.

My Choir - CIENTIFICO CHOIR



If you see my profile, Choir is my big desier (beside chemist of course)...
The only mine and my pride Choir is 'Cientifico Choir'.

Choir is my life, Cientifico Choir is my family...
Just wanna share my family profile in here,
there is it...




CIENTIFICO CHOIR

Cientifico Choir telah berdiri sejak 5 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 11 Desember 2003 oleh sejumlah mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Brawijaya. Sebelumnya memang sudah dibentuk komunitas mahasiswa Paduan Suara, tetapi statusnya masih belum diakui sebagai salah satu LOF di FMIPA Universitas Brawijaya pada bulan tersebut. Cientifico Choir pada awalnya memiliki nama Cientifico Coral, namun pada bulan Maret 2004 berganti menjadi Cientifico Choir.

Cientifico Choir merupakan salah satu Lembaga Otonomi Fakultas yang bergerak dalam bidang Paduan Suara di Fakultas MIPA Universitas Brawijaya dan bertujuan untuk menggali minat dan bakat mahasiswa Fakultas MIPA dalam bidang seni suara dan musik. Belakangan ini, telah dibentuk pula Cientifico Female Choir (CFC) yang merupakan bagian dari Cientifico Choir.

Cientifico female Choir (CFC) pertama kali terbentuk pada tanggal 1 Februari 2010. Cientifico Female Choir adalah sekelompok penyanyi dalam format paduan suara khusus wanita yang merupakan bagian dari Cientifico Choir, sebagai kelompok paduan suara yang multi-tasking, mampu untuk tampil dalam paduan suara kelompok besar, kelompok kecil, vocal kecil, vocal group serta solis, dengan koreografi dan penguasaan panggung.

Kostum dan alat musik menunjang setiap penampilan untuk tampil sesuai dengan pesanan acara-acara seperti : resepsi pernikahan, pesta ulang tahun, launching produk, gathering, ceremonial, dan acara-acara perayaan lainnya.

PRESTASI

7 tahun sudah sejak Cc berdiri, sudah banyak pula penghargaan-penghargaan yang disumbangakan yang cukup membanggakan. Berikut prestasi-prestasi selama 6 tahun terakhir:

1. Juara 2 Lomba Paduan Suara Piala Rektor (LPSPR XII) Universitas Brawijaya Malang 2004.

2. Best Renaisance Song Lomba Paduan Suara Piala Rektor (LPSPR XII) Universitas Brawijaya Malang 2004.

3. Juara 1 Lomba Paduan Suara Piala Rektor (LPSPR XIII) Universitas Brawijaya Malang 2005.

4. Best Movie Soundtrack Lomba Paduan Suara Piala Rektor (LPSPR XIII) Universitas Brawijaya Malang 2005.

5. Juara 2 “Silver Medal” International Score dan Best International Song Kompetisi Paduan Suara Gajayana Cup antar Perguruan Tinggi dan SMA se-Malang dalam rangka Malang Art Festival Se-Malang Raya 2006.

6. Juara 2 Lomba Paduan Suara “Jingle Pajak” yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Timur III 2007.

7. Juara 1 Lomba Paduan Suara Piala Rektor (LPSPR XVI) Universitas Brawijaya Malang 2008.
Best Popular Song Lomba Paduan Suara Piala Rektor (LPSPR XVI) Universitas Brawijaya Malang 2008.

8. Peraih Gold Medal dan gelar THE CHAMPION dalam Festival Paduan Suara ITB XXI 2008 kategori Folklore.

9. Peraih Silver Medal dalam 1st Brawijaya Choir Festival 2009.

10. Peringkat 3 Lomba Jinggle Pajak Dirjen Pajak III 2009.

11. Peringkat 4 Festival Paduan Suara Cirebon se-Jawa Bali 2009 yg diselenggarakan oleh SMAK 1 BPK Penabur Cirebon.

12. Peraih Gold Medal dan gelar THE CHAMPION dalam Festival Paduan Suara ITB XXII 2010 untuk kategori Padus Sejenis Wanita.

13. Peraih Silver Medal pada Festival Paduan Suara ITB XXII 2010 untuk kategori Lagu Rakyat Indonesia.

14. Peraih Silver Medal pada Festival pada Paduan Suara ITB XXII 2010 untuk kategori Padus Perguruan Tinggi/Umum

15. Peraih Silver Medal pada 1st ITB International Choir Competition 2010 untuk Folksong Program.

16. Peraih Silver Medal dan Juara 1 (the champion) pada 3rd Brawijaya Choir Festival 2011 tingkat Universitas.
17. Peraih Silver Medal pada 1st Bandung International Choir Competition 2011 untuk Folksong Program

Sebagai Lembaga Otonomi Fakultas, Cc tidak hanya bergerak dalam kegiatan-kegiatan intra-kampus. Beberapa tahun terakhir Cientifico Choir mulai sering mengisi kegiatan-kegiatan ekstra-kampus maupun acara-acara yang didukung even organizer, atau kegiatan berbau professional. Kegiatan-kegiatan pasti yang selalu diikuti Cc adalah berbagai lomba-lomba festival paduan suara baik bertaraf regional maupun nasional dan mulai merambat ke ajang internasional. Kegiatan lainnya adalah annual concert, ngamen, dan tak lupa acara-acara ceremonial bagi fakultas MIPA sendiri seperti wisuda.

Adapun program kerja Cientifico Choir setengah tahun ke depan antara lain :

1. Promosi LOF di PK2Maba 2010

2. Open Recruitment anggota baru

3. Bakti sosial dan buka bersama

4. Diklat anggota baru 2011

5. Kompetisi Paduan Suara ekstra Kampus

6. Reherseal Kuliah tamu 2011

7. Mengisi acara ceremonial Wisuda SOB

8. Mengisi acara ceremonial Wisuda FMIPA UB II

9. Mengisi acara ceremonial Wisuda STAN

10. Open House LOF Mipa

11. New year’s vacation in togetherness 2011

12. RACC 2011